Road to Ironman

Latihan Strength and Conditioning, sangat penting bagi kegiatan pendakian. Berbeda dengan anggota tim Gapai Tinggi lainnya, saya kebetulan sangat senang dengan olahraga renang. Bukan berarti jago berenang ya. Sebatas suka. Ketika anggota tim yang lain berlatih berlari, saya memilih berenang jarak jauh. Minimal 3 km. Santai. Nafas dalam, tenang, dan teratur seperti meditasi. Cocok untuk simulasi pendakian di ketinggian ekstrim.

“Running is Sucks… without Swim and Bike.” Sablon di kaos rekan Triathlon Buddies di Sungailiat kemarin cukup mewakili perasaan saya. Mungkin jenis kaki saya yang flat membuat saya agak malas berlari. Saya hampir pingsan di km kedua ketika mengikuti latihan lari perdana tim Gapai Tinggi untuk pendakian Ama Dablam. Olahraga triathlon adalah kombinasi yang tepat. Memaksa saya untuk berlari jika ingin sampai di garis finish.

Ketika sedang merencanakan perjalanan ke Arctic, saya secara tidak sengaja melihat banner Isklar Norseman Extreme Triathlon. Sebuah kegiatan triathlon ekstrim berjarak total 226 km di Norway. Wow menarik sekali! Saya sangat suka dengan salju dan es. Dan ide untuk berenang di Fjord terdengar sangat eksotik. Saat itulah saya pertama kali mendengar Iron Distance (140.6 miles). Suatu jarak yang terdengar absurd. Ironman dimulai dengan berenang 3,8 km, bersepeda 180 km, dan ditutup dengan berlari jarak Marathon 42,195 km. Absurd karena saya belum pernah lari lebih jauh dari 10 km. Absurd karena bersepeda 180 km kira-kira sama dengan jarak dari Jakarta Pusat ke Bandung, via Jonggol, yang pernah saya tempuh selama 2 hari. Lebih absurd lagi karena Norseman adalah salah satu iron distance triathlon terberat.

Bali International Marathon 2012

Langkah kecil sebelum langkah besar. Triathlon pertama saya ikuti adalah Bali International Triathlon tahun 2012, dengan kategori Olympic Distance. Registrasi dilakukan di Intercontinental Bali Resort, Jimbaran. Surprise, pada saat registrasi, nama saya tercantum dalam satu kategori dengan idola saya Richard Sam Bera, perenang olimpiade dan pemegang rekor SEA Games 100 meter gaya bebas putra. Beruntung, saya berkesempatan untuk berfoto bareng dengan beliau sesaat sebelum race dimulai. Renang di laut ternyata lebih sulit dari yang saya kira. Sulit dalam hal navigasi. Saya berenang zigzag dari satu buoy ke buoy berikutnya. Melelahkan. Seperti bisa diduga kesulitan terbesar adalah ketika running leg. Kaki kram dan terik matahari adalah hal yang harus dihadapi. Untungnya panitia menyediakan water station yang cukup. Ini adalah salah satu race terbaik yang pernah saya ikuti. Selain diselenggarakan oleh Panitia yang profesional, juga berlokasi di Pulau Dewata. Pilihan terbaik sebagai Triathlon Race pertama anda. Anyone Can Tri!

Race kedua adalah Bintan Triathlon 2014. Race di Indonesia rasa Singapura. Semua biaya dalam SGD. Latihan open water swim bersama Triathlon Buddies di Pulau Tidung sangat membantu saya untuk lebih efisien di swimming leg. Tidak lagi berenang zigzag. Race ini mempertemukan saya dengan Ironboys, Ryan Saputra dan Handi Gunawan. Ironboys karena kami belum Ironman. Setelah merasa nyaman dengan jarak Olympic, kami memutuskan untuk mencoba jarak 70.3 atau Half Iron Distance di Putrajaya, Malaysia.

Ironman 70.3 miles Putrajaya Malaysia
Ironman 70.3 miles Putrajaya Malaysia

Ironman 70.3 Putrajaya Malaysia merupakan race dengan brand Ironman pertama saya. Kami berlatih ekstra untuk event tersebut. Program latihan kami download dari Triradar yang isinya merupakan kombinasi interval training dan endurance training untuk masing-masing olahraga. Kami mulai mempelajari strategi nutrisi, baik sebelum dan pada saat race. Mencoba strategi tersebut pada saat latihan agar bisa berjalan lancar ketika race. Kami melakukan upgrade alat, dari trisuit sampai aerobar, agar bisa menyelesaikan lomba dengan baik. Tapi ternyata guru terbaik adalah race itu sendiri. Selain dapat mengevaluasi strategi dan alat yang digunakan, kami juga berkesempatan untuk berlomba bersama Atlit Triathlon andalan Indonesia Andy Wibowo, maupun Ironman seperti Hasbi A. Lubis dan Chaidir Akbar. Kami mendapatkan banyak tips berharga baik dalam melakukan latihan maupun strategi pada saat lomba.

Sungailiat 70.3 miles, Pulau Bangka
Sungailiat 70.3 miles, Pulau Bangka, April 2016

Saat ini saya masih mencoba untuk nyaman di jarak 70.3 miles. Sungailiat Triathlon kemarin membuktikan, bahwa masih sulit buat saya untuk menyelesaikan jarak 70.3 miles dengan waktu yang baik. Saat ini kelemahan terbesar saya justru pada bike leg, bukan lagi pada running leg. Mungkin saatnya upgrade ke TT Bike. Saya akan mencoba lagi di Ironman 70.3 Cebu Philippines bulan Agustus nanti. Kami berencana untuk mencoba jarak Ironman tahun depan. Apakah kami bisa menyelesaikan jarak Ironman dengan catatan waktu yang baik? Apakah akhirnya saya bisa mengikuti Norseman? Tidak penting. Yang penting terus berlatih.

Fedi Fianto

Selain melakukan kegiatan mendaki gunung, ia juga menekuni kegiatan fotografi dan videografi. Ia selalu berusaha untuk “doing extra miles” di setiap tantangan yang dipilihnya, dan itu dibuktikannya dengan mengikuti kompetisi Triathlon dan Marathon. Selain itu ia pun menekuni Olahraga Selam dan mengabadikan keajaiban bawah laut di pulau-pulau cantik Indonesia di antaranya Bali, Ambon, Wakatobi, Alor, dan Lembeh.

3 thoughts on “Road to Ironman

Leave a Reply