Ama Dablam Summit Day

Tak terasa sudah setahun berlalu. Hari itu, 21 November 2013, adalah hari ke 24 Ekspedisi Tim Gapai Tinggi di Gunung Ama Dablam. Saya dan Doma Chhiri Sherpa, sudah bersiap semenjak pagi hari sebelum matahari terbit di base camp, untuk mempersiapkan peralatan pendakian. Kami sadar ini adalah upaya terakhir kami untuk menggapai Puncak Ama Dablam yang berketinggian 22.000 feet atau 6.856 meter di atas permukaan laut. Dari empat pendaki Tim Gapai Tinggi yang berangkat dari Indonesia tinggal tersisa saya sendiri yang masih sehat dan memiliki peluang untuk menyelesaikan ekspedisi ini. Begitu pula, dari 2 Sherpa, yang menemani kami, tinggal Doma yang masih bisa melanjutkan ekspedisi ini.

Seperti rekan-rekan ketahui, pada ekspedisi ini, tim Gapai Tinggi menghadapi berberapa kendala; kehilangan team leader yang terkena HAPE, belum adanya jalur fix-rope ke puncak Ama Dablam, dan tidak tersedianya space untuk tenda di Camp 2. Namun beberapa hari yang lalu terdengar kabar baik, tepatnya tanggal 17 November 2013, Pasang Sherpa, salah seorang Climbing Sherpa dari tim Himalayan Ascent, sesuai namanya, berhasil memasang fix rope sampai ke puncak Ama Dablam. Artinya, Blue Ice yang selama ini tertimbun salju akhirnya tersingkap dan memungkinkan pemasangan Ice Screw. Jalur ini terpasang di saat hampir semua tim pendakian sudah meninggalkan base camp. Ini kesempatan besar buat kami.

Namun seperti rekan-rekan ketahui, space di Camp 2 penuh, kami harus menunggu tim lain pulang setelah mencapai puncak. Selain berkoordinasi dengan tim lain mengenai jadwal pendakian masing-masing, kami juga mengupayakan Sherpa tambahan untuk membantu kami membangun Camp 2 dan membawa perbekalan ke sana. Sherpa tersedia tapi harus dibayar dengan cash. Selain itu dibutuhkan waktu beberapa hari untuk mengurus asuransi dan ijin pendakian baru untuk Sherpa tersebut. Kami tidak punya keduanya, waktu dan uang cash tersebut.

“Tidak ada pilihan lain, kita harus mencoba untuk mendaki langsung dari Camp 1!” kata Doma pagi itu. “Ok! Kita coba saja,” balas saya. Kami akan mendaki ke Camp 1 terlebih dahulu. Jam 8 tepat, saya berangkat terlebih dahulu ke Camp 1, sementara Doma masih menyiapkan alat-alatnya. Tepat jam 12 siang saya sudah sampai Advanced Base Camp (ABC) di ketinggian 5.500 meter, setinggi puncak Kalapathar di Everest Base Camp. Ini rekor tercepat saya sampai di ABC. “Mungkin aklimatisasi saya berhasil,” pikir saya saat itu. Persis seperti kabar yang saya terima dari Cak Lukik, Manajer Tim kami di Jakarta, siang itu angin bertiup sangat kencang 64 km/jam (high wind). Angin kencang sekali menerpa, anehnya dari belakang, seperti mendorong saya untuk terus maju.

Di ABC saya beristirahat tidur siang sekitar 1 jam di tenda yang saya bangun beberapa hari sebelumnya, sambil menunggu hembusan angin kencang reda. Satu jam berlalu, angin belum juga reda, saya memutuskan melanjutkan perjalanan ke Camp 1. Saya tiba di Camp 1 sekitar jam 5 sore. Kami langsung mengevaluasi situasi kami hari ini. “Ada 2 pilihan, menginap di Camp 1 dan besok pagi mendaki ke Camp 2, atau langsung mendaki ke Camp 2 malam ini juga,” kata Doma. Tinggal di Camp 1 memang menggoda, tapi saya khawatir tidur yang tidak nyaman dan makan seadanya membuat kami lelah. “Lanjut mendaki malam ini juga!” putus saya.

Setelah makan malam, tepat pukul 8, kami mengenakan Down Suit, Harness, Ice Boot, dan Helm. Kami memulai perjalanan menuju Camp 2. Perjalanan menuju Camp 2 cukup sulit, kami harus melakukan traversing yang panjang dan mendaki tebing kombinasi batu dan es. Di malam hari pandangan kami terbatas, tapi sangat menguntungkan buat mendaki karena mata kami bisa fokus hanya pada jalur pendakian. Jalur yang sebelumnya harus dengan susah payah dilewati, malam itu menjadi mudah. Setelah melewati sebuah tebing es kami akhirnya berada di bawah Yellow Tower. Yellow Tower adalah tebing vertikal yang sangat terkenal di Ama Dablam.  Tebing berwarna kekuningan ini tingginya hanya 12 meter, namun cukup sulit dilalui. Malam itu Yellow Tower kami lalui dengan mudah. Kami sampai di Camp 2 tepat pukul 12 tengah malam.

Doma on top of Yellow Tower
Doma–our Climbing Sherpa–on top of Yellow Tower

Kami menyelinap di antara tenda-tenda yang cukup rapat, persis di tepi jurang yang menganga lebar. Lokasi Camp 2 memang sangat eksotis, di atas sebuah tebing batu yang sempit. Kami beristirahat sejenak, minum teh hangat dari termos, sambil mengamati tenda-tenda yang sunyi. Penghuninya sedang tertidur lelap. Umumnya pendakian ke puncak Ama Dablam dari Camp 2 dilakukan pukul 2 dini hari. “Ada baiknya kita di depan pendaki-pendaki lain,” kata Doma. Benar sekali pendapat Doma, dengan berada di depan pendaki lain, kami tidak terkena longsoran salju dan batu dari atas, selain itu bisa menghindari kemacetan jalur pendakian yang sempit.

Setelah memasang Crampon pada Ice Climbing Boot, kami melanjutkan mendaki Grey Tower yang menunggu di hadapan kami. Ketika tengah memanjat Grey Tower, tiba-tiba kedua tangan saya terasa pedih karena kedinginan. “Kalau tangan kamu kedinginan, kita harus pulang,” kata Doma. Terpikir olehnya resiko tangan saya terkena Frostbite. Saya mencoba menempelkan  sticker penghangat Grabber Warmers, yang saya beli di Namche Bazaar, ke telapak tangan saya, dan mencoba berganti sarung tangan  menggunakan inner gloves dari Outdoor Research. Ternyata hal ini bisa menghangatkan kembali tangan saya.

Dari atas Grey Tower kami melihat keramaian di Camp 2. Rupanya para pendaki lain telah bersiap untuk mendaki. Jam 4 dini hari, kami tiba di Mushroom Ridge, sebuah gigiran es yang tajam, terbentuk dari kombinasi yang unik antara es dan batu. Kami harus melintasi gigiran es yang sangat lancip dengan jurang di kedua sisinya. Di sana hati saya tergetar, ngeri. Kami berjalan melintasi gigiran es tersebut dengan berhati-hati. Namun, mungkin karena kelelahan setelah hampir 24 jam berjalan, kaki kanan saya terpeleset dan jatuh…

Camp 2 and Grey Tower
Camp 2 and Grey Tower

Jatuh sekitar 3 meter, namun untungnya masih tertahan double Cows Tail yang terpasang dengan sempurna di Fix Rope. Panik, saya segera memanjat ke atas secepat yang saya bisa kembali ke atas gigiran. Kaget, jantung saya berdetak, nyali saya ciut, ingat keluarga di rumah. Dengan kaki gemetaran saya menyelesaikan gigiran tersebut, lalu beristirahat sejenak. Membiarkan pendaki dari tim lain mendahului saya di sana. “Jangan mati di sini!” kata seorang pendaki dari tim Jagged Globe sambil menepuk-nepuk helm saya. Rupanya ia melihat ketika saya jatuh.

Setelah melalui sebuah lengkungan es berbentuk unik yang biasanya digunakan untuk Camp 2.7 dan memanjat sebuah tebing es kami tiba di Camp 3. Terlihat sebuah tenda telah disiapkan tim Jagged Globe di sana. Mereka bertepuk tangan, bukan untuk menyambut kami, tapi untuk mengusir dingin yang menggigit telapak tangan. Setelah terjadinya longsor salju pada tahun 2006 yang menewaskan 6 pendaki, Camp 3 tidak pernah digunakan lagi.  Kami duduk sejenak di Camp 3, sambil melihat ke arah Dablam (pendant), bongkahan es (Ice Serac) yang menggantung di bawah puncak Ama Dablam menyerupai kalung cantik yang membalut lehernya. Sementara itu angin kencang dengan suhu -40 derajat celsius pun menerpa. Salah seorang pendaki yang berada di depan kami membatalkan upaya summit dan kembali ke Camp 2.  Menghindari resiko longsor salju akibat tiupan angin yang sangat kencang.

“Tanggung!” pikir kami, sudah jauh mendaki dari Camp 1, dan ini kesempatan satu-satunya untuk mencapai puncak. Saat beristirahat, kami melihat ada pendaki lain yang melanjutkan perjalanan. Tepat pukul 8 pagi, kami berdiri untuk melanjutkan pendakian. Kami memutari dua Ice Crevasse yang menganga lebar di bawah Dablam, lalu mendaki sisi kanan Dablam yang curam dengan bantuan Ice Axe. “Dah deket nih,” pikir saya.  Dua jam kemudian, ternyata kami belum sampai juga ke puncak. Rekan Nikk menghubungi kami via Walkie-Talkie, “Dah sampai puncak?” tanyanya. “Masih jauh!” jawab kami terengah-engah. Rupanya dari Base Camp dengan menggunakan lensa tele, Nikk melihat ada pendaki yang sudah sampai di atas puncak Ama Dablam. Memang benar, tapi sayangnya bukan kami. Kami sudah terlalu lelah mendaki lebih dari 24 jam. Lambat dan semakin lambat.

“Kami sampai di puncak Ama Dablam!” teriak saya ke Cak Lukik via sambungan telp.”Lho kok sudah sampai puncak?” Maklum sebelumnya hanya bilang akan ke Camp 1. Keputusan nekad langsung ke Puncak memang impulsif.  Ya ada sinyal telpon di puncak Ama Dablam. iPhone 5 yang saya gunakan anehnya masih bisa berfungsi di suhu ekstrim tersebut, walau hanya sekitar 5 menit saja sebelum mati kedinginan.

Ama Dablam Summit
Ama Dablam Summit

Tepat pukul 12.00 siang, tanggal 22 November 2013. Setelah mendaki tebing es yang gak ada habisnya selama 4 jam, dan perjalanan mendaki dari Base Camp selama 28 jam, akhirnya kami tiba di Puncak Gunung Ama Dablam. 6.856 meter dpl. Tak bisa terlukiskan perasaan senang yang kami rasakan saat itu. Cuaca cerah menyambut kami di puncak. Pemandangan cantik Mount Everest menyambut kami di atas sana. Puncak Imja Tse (Island Peak) pun terlihat di bawah, nampak seperti sangat dekat.

“Ekspedisi yang berhasil adalah ekspedisi yang mencapai puncak dan turun dengan selamat,” kata Doma dengan bijaksana. Perjalanan kami masih jauh. Kami masih harus menempuh jalan turun yang terjal ke Base Camp. Setelah 36 jam terus berjalan semenjak kami memulai pendakian dari Base Camp, kami kembali tiba di Camp 2. Atas kebaikan hati Sherpa Jagged Globe dan Ascent Himalaya kami mendapatkan tebengan menginap malam itu. Berdesakan. Tenda yang seharusnya hanya untuk 3 orang, dipenuhi  5 orang malam itu. Keesokan harinya kami melanjutkan perjalanan kembali ke Base Camp.

Atas nama Tim Ekspedisi Indonesia Gapai Tinggi Ama Dablam 2013, saya mengucapkan terima kasih sedalam-dalamnya untuk doa dan dukungan dari rekan-rekan dan keluarga kami dalam menyelesaikan ekspedisi ini. Terima kasih kami sampaikan juga kepada agen kami Adventure Geotrek yang telah menjalankan ekspedisi ini, dan khususnya untuk Doma C. Sherpa, Climbing Sherpa kami. Rangkaian cerita selengkapnya bisa dibaca pada kategori Ekspedisi Ama Dablam 2013.

Pencapaian tersebut dicatat ol Miss Elizabeth Hawley pada The Himalayan Database.

Tulisan dan Foto oleh Fedi Fianto.

Fedi Fianto

Selain melakukan kegiatan mendaki gunung, ia juga menekuni kegiatan fotografi dan videografi. Ia selalu berusaha untuk “doing extra miles” di setiap tantangan yang dipilihnya, dan itu dibuktikannya dengan mengikuti kompetisi Triathlon dan Marathon. Selain itu ia pun menekuni Olahraga Selam dan mengabadikan keajaiban bawah laut di pulau-pulau cantik Indonesia di antaranya Bali, Ambon, Wakatobi, Alor, dan Lembeh.

5 thoughts on “Ama Dablam Summit Day

Leave a Reply