Bermalam di Gua Es Svalbard

“Ada gak petualangan yang lebih seru?” tanya kami pada Samuel Duc, pemandu trekking kami di sana. Hari itu kami mengikuti sebuah tur trekking ke Sarcofagen, sebuah bukit di sebelah utara Kota Longyearbyen, Svalbard. Tur ini sebenarnya cukup menarik, kami mendaki area bebatuan yang bersalju. Dari atas bukit kami bisa melihat kota kecil itu. Kami melihat bekas-bekas Tambang Batu Bara yang pernah menjadi andalan ekonomi Svalbard. Tur ini sebenarnya buat siapa saja baik dewasa maupun anak-anak, tidak perlu menggunakan Crampon, cukup menggunakan Slip-on Cleats yang dipasang di sepatu masing-masing.

Beberapa hari kemudian, sepulang perjalanan kami ke Kota Hantu Pyramiden, Sam menghubungi kami dan menawarkan petualangan yang lebih menarik, menginap di Gua Es. Bak mimpi jadi kenyataan, kami pun langsung menyetujuinya. Ini bukan petualangan yang bisa ditemukan di brosur turis, ini benar-benar kesempatan yang unik. Rupanya Sam baru saja menemukan Gua Es yang cukup besar dan stabil di Glacier di utara Longyearbyen. Bentuk gua es di bawah Glacier bisa saja berubah dari waktu ke waktu akibat perubahan suhu, perubahan suhu ini bisa membuat sebuah gua es kolaps. Beruntung suhu saat itu sudah memasuki musim dingin sehingga gua akan semakin mengeras, sehingga aman untuk dijelajahi.

Pintu Masuk Gua Es
Pintu Masuk Gua Es

Sewaktu di tanah air, kami memang pernah merencanakan untuk menginap di Hotel Es. Hotel Es adalah hotel yang sengaja dibangun dari balok-balok es. Baik struktur bangunan, elemen arsitektur, dan interior semuanya terbuat dari es. Pasti sangat eksotis merasakan tidur di atas ranjang es, makan di meja makan es, dan mandi di kamar mandi yang terbuat dari es! “Brrr…” pastinya sangat dingin, tapi bakal jadi pengalaman yang seru. Aneh memang, berbeda dengan impian turis Eropa yang ingin duduk di pantai  sambil bermandikan matahari sepanjang tahun, kami justru ingin menikmati cuaca dingin, salju, dan es. Tapi karena terbatasnya dana dan waktu, kami harus membatalkan impian kami tersebut.

Kesempatan ini tentu saja tidak kami sia-siakan. Ini lebih istimewa daripada menginap di Hotel Es yang dibangun untuk turis. Sam mengajak beberapa rekan Adventure Guide lain untuk ikut dalam perjalanan ini. Sayangnya, kami tidak membawa perlengkapan yang memadai untuk menginap di gua es. Kami hanya membawa sleeping bag tipis untuk suhu dingin di gunung tropis. Untungnya, kami bisa menyewa sleeping bag berbahan Bulu Angsa dari manajer Guesthouse tempat kami menginap.

 

Gua Es
Gua Es

Kami berangkat pada sore hari. Kami mampir terlebih dahulu di Tenda milik Sam yang terletak di pinggiran Longyearbyen untuk mengambil perbekalan. Tenda tersebut dibangun di wilayah yang rawan Beruang Kutub. Untuk keamanan, Sam memasang sensor gerak dan memelihara anjing untuk mendeteksi kehadiran Beruang Kutub. Bersama empat Adventure Guide lain kami memulai perjalanan melintasi Glacier di malam hari. Meskipun sudah menggunakan Slip-on Cleats, kami masih saja terpeleset, termasuk Sam. Maklum, di bawah lapisan salju terdapat lapisan es yang sangat licin.

Akhirnya kami tiba di mulut Gua Es. Mulut Gua Es tersebut tersembunyi di sisi Glacier. Tanpa Sam, kami akan sulit untuk menemukannya. Kami masuk dan mencari tempat yang nyaman untuk beristirahat. Saya dan Nikk melanjutkan mengeksplorasi Gua Es tersebut. Gua tersebut tidak terlalu besar tapi cukup panjang. Kadang kami harus merangkak untuk bisa melewati celah yang sangat sempit. Kami pun harus berhati-hati agar kepala kami tidak membentur Stalagtit Es. Stalagtit Es tersebut sangat indah menyerupai lampu kristal yang menghiasi Gua Es tersebut. Di tengah perjalanan kami menemukan fosil tumbuhan di atas batuan yang tertutup lapisan es. Hmm… mungkin sudah berumur ratusan tahun, karena kami tidak melihat satupun pohon tumbuh di sini.

Fosil Tumbuhan
Fosil Tumbuhan

Setelah selesai melakukan eksplorasi singkat, kami kembali untuk mempersiapkan makan malam dan peralatan untuk tidur. Saya tidur di dalam dua lapis Sleeping Bag, dilapis Inner Sleeping Bag ekstrim yang dapat menambah kehangatan sekitar 10 derajat celcius, mengenakan Jaket Tebal dan Base Layer berbahan Morino Wool. Tapi masih saja kedinginan. Malam itu mungkin malam paling dingin yang pernah saya alami. Paginya kami kembali ke Longyearbyen, melewati Glacier, ditemani taburan bintang-bintang langit Utara yang indah.

Tips: Slip-on Cleats ada berbagai jenis, salah satunya berbentuk menyerupai rangka berbahan karet yang memiliki paku plastik kecil. Alat ini sangat berguna ketika harus berjalan di atas lapisan es tipis akibat salju yang mencair terkena Matahari. Longyearbyen, Svalbard, terletak di utara garis Arktika dan merupakan salah satu pemukiman paling utara di Bumi.

icon-car.pngKML-LogoFullscreen-LogoQR-code-logoGeoJSON-LogoGeoRSS-LogoWikitude-Logo
Ice Cave at Longyearbyen, Svalbard

loading map - please wait...

Ice Cave at Longyearbyen, Svalbard 78.220000, 15.650000

Foto dan Tulisan oleh Fedi Fianto

Fedi Fianto

Selain melakukan kegiatan Mountaineering; Ia juga menekuni olahraga Triathlon, Obstacle Race, dan Scuba Diving. Ia selalu berusaha untuk “doing extra miles” di setiap tantangan yang dipilihnya. Sampai saat ini ia telah berhasil menyelesaikan 2x IRONMAN Race; IRONMAN Western Australia dan IRONMAN Korea, yaitu long distance triathlon dengan jarak renang 3,8km, sepeda 180km, dan lari 42km (Full Marathon), Tokyo Marathon, dan Spartan Beast Malaysia.

Leave a Reply