The Sherpas

The Sherpas

Tanggal 20 April lalu, 16 pemandu pendakian tewas tersapu longsoran salju di Gunung Everest, menjadikannya sebagai kecelakaan terburuk dalam sejarah pendakian Gunung Everest.  Bagi para Sherpa, hari itu merupakan hari terburuk mereka dalam memandu pendakian di sana. Ada yang membuat saya terkejut saat pemerintah Nepal mengumumkan nama-nama sherpa yang menjadi korban, seorang diantaranya kami pernah bertemu di Desa Dingboche http://www.explorersweb.com/everest_k2/news.php?url=everest-ice-fall-avalanche-kills-12_1397834973 . Semoga ia bukanlah seorang yang menjadi korban di sana, mengingat ada banyak kesamaan nama di antara para sherpa. Berikut kisah pertemuan dengan Then Dorjee Sherpa tentang suka duka memandu pendakian ke Gunung Everest.

cats

Minggu kedua November lalu, kami bertiga singgah di sebuah tea house kecil di desa Dingboche, Solukhumbu, Nepal, yang berada pada ketinggian 4300 m.  Ada jejeran batu yang disusun menjadi tempat duduk untuk melepas penat para pejalan di depan tea house. Tak ada papan penunjuk nama, satu-satunya tanda yang menunjukkan rumah kecil ini sebagai tea house adalah tampilan biscuit, coca cola dan beberapa bahan makanan lain pada jendela kaca kusam rumah tersebut.

Ruang dalam tea house itu terbagi dua, kamar tidur dan ruang duduk yang sekaligus berfungsi sebagai dapur dan ruang makan. Ada dua meja kayu dan kursi yang letaknya disusun saling berhadapan secara diagonal. Sebuah rak kayu dipasang menempel pada dinding dekat jendela, tempat menaruh berbagai macam bahan makanan . Tungku dengan bahan bakar kayu ada menyempil pada sudut ruangan.

IMG_5664

Sejatinya tea house ini tempat perhentian para porter untuk makan dan  beristirahat. Saat para pemakai jasa mereka menginap di hotel ataupun lodge yang ada di sekitar sana, para porter akan berkumpul di tea house keci ini untuk berlindung dari dingin dan mendapatkan kehangatan dari tungku kayu yang ada disudut ruangan.

Pemililik tea house ini adalah Then Dorjee. Ia berasal dari klan Sherpa, klan yang merajai dataran tinggi Himalaya. Klan yang diberkahi dengan tangan dan kaki-kaki yang kuat, juga paru-paru dengan kapasitas besar, yang membuat mereka dapat bergerak dengan lincah di kawasan yang miskin oksigen dan temperatur rendah.

Then Dorjee tidak suka tinggal pada dataran rendah. Ia mengaku tubuhnya akan menjadi lemah jika terlampau lama berada di dataran rendah, ” Saya menjadi mudah sakit, saya tidak tahan dengan udara panas,” keluhnya. Namun jika berada di dataran tinggi tubuhnya akan menjadi lebih kuat. Tentunya kondisi tersebut sangat kontras dengan kondisi kami bertiga yang berasal dari kawasan tropis. Ketinggian dan suhu udara ekstrim adalah suatu hal yang tidak mudah untuk kami hadapi.

IMG_5680

Kami memesan teh hitam,  kentang dan telur rebus pada siang dengan dingin yang mengigit itu. Harga segelas teh hitam di tempat ini hanya seperempat harga dibandingkan dengan harga di restaurant lodge yang ada di sana. Begitu juga dengan harga makanan yang lain, jauh lebih murah dan ukuran porsi yang biasa disajikan jauh lebih besar, seperti porsi untuk para porter.

Then Dorjee Sherpa adalah seorang high altitude worker, sebagai pemandu pendakian ,  climbing guide. Karirnya sebagai high altitude worker cukuplah luar biasa. Then Dorjee sherpa telah berhasil menjejakkan kaki di puncak gunung Everest sebanyak sembilan kali, puncak Ama Dablam sebanyak dua kali dan sederetan puncak-puncak lain yang ada di kawasan Himalaya.

Tak hanya berpengalaman memandu pendakian di kawasan Everest, siang itu tangan-tangan Then Dorjee juga mahir menggunakan perlengkapan dapur dan menyiapkan makanan untuk kami semua.

Untuk sebuah ekspedisi pendakian gunung Everest yang memakan waktu sekitar dua bulan, Than Dorjee bisa mendapatkan bayaran bersih antara $4,000 – $5,000.

” Sebagian besar uang yang saya terima, akan berakhir di  leather bank, not at the money bank, ” katanya sambil tertawa lebar dan menunjuk perutnya, saat menjelaskan bagaimana ia menggunakan uang yang didapatnya.

Menurutnya ekspedisi pendakian gunung tidak bisa dilakukan sepanjang tahun, sementara kebutuhan untuk hidup dan keluarganya harus dipenuhi sepanjang tahun, jadi menabung adalah bisa menjadi sebuah tantangan yang tidak mudah.

“Memandu pendakian ke Gunung Everest adalah pekerjaan yang sangat berbahaya, pekerjaan tersebut membutuhkan kondisi fisik yang luar biasa kuat, ” katanya sambil menyajikan tiga gelas teh hitam yang kami pesan. Seorang pemandu harus terus menerus menjaga kondisi fisiknya, terutama beberapa bulan sebelum berangkat ekspedisi .

Far from Sober

Sebuah ekspedisi yang berakhir dengan baik artinya ada satu bulan penuh bagi Then Dorjee dan para pemandu lain untuk bersenang-senang, tiada hari tanpa mabuk, ” drinking days,” ujarnya sambil tertawa terbahak-bahak dan berjalan bagai orang mabuk.  “ Saya akan minum bergelas-gelas  chang (minuman beralkohol tradisional sejenis tuak) setiap harinya, pagi, siang dan malam”.

Satu bulan berpesta adalah hal yang biasa dilakukan oleh para pemandu pendakian dan para high altitude worker yang lainnya. ” Untuk merayakan kembalinya kami dengan selamat dari gunung, ” ujarnya.

Pada musim pendakian tahun ini, Then Dorjee memutuskan untuk tidak mengikuti ekspedisi pendakian manapun, karena sang istri melarangnya, “ Istri saya bilang  kondisi fisik saya sedang tidak bagus, saya terlampau lemah, tidak sekuat biasanya, dan gunung itu berbahaya sekali”.

Saat menutup perbincangan, Than Dorjee berkata ia akan  banyak daging, ayam, dan bubur champa untuk persiapan musim ekspedisi pada spring berikutnya.

Dua jam perjalanan turun dari tea house Then Dorjee, kami bertemu istri laki-laki perkasa ini di lodge kecil mereka di Shomare. Deretan sertifikat pencapaian puncak Everest dibingkai rapi dan digantungkan pada dinding ruang perapian di lodge mereka yang berada di puncak bukit kecil di desa Shomare.

Pada foto yang tertera di sertifikat itu, wajahnya tampak putih, bersih dan muda. Beda dengan penampilannya yang kami lihat beberapa jam lalu, kulit wajahnya  menghitam karena terpaan udara dingin. Penampilannya sebagai orang yang telah mendaki  Everest sembilan kali, sama sekali tidak tampak, saat ia merebus kentang dan menyiapkan pesanan makan siang kami.

Di lodge ini Than Dorjee hidup bersama seorang istri dan seorang putera yang berusia tiga tahun. Di sanalah ia membagi waktu antara ekspedisi, keluarga, dan usaha lodge kecilnya.

” Suami saya sangatlah kuat, dia sudah berkali-kali mendaki gunung Everest, ” ujarnya dengan penuh kebanggaan. ” Namun pada musim pendakian ini saya tidak mengijinkan ia untuk ikut ekspedisi karena musim ini kondisi di atas gunung saat berbahaya,” tambahnya.

Menjadi pemandu pendakian sudahlah menjadi ritual kehidupan bagi banyak laki-laki dari klan Sherpa di sana. Yang beruntung, bisa memiliki lodge, menjalin hubungan kerja dengan agen pendakian,  dan menjadikan  sebagai sumber penghidupan saat usia dan tenaga mereka tidak lagi bisa bersaing di lereng-lereng yang membeku di atas sana.

Yang tidak beruntung, nasibnya akan berakhir pada luncuran salju , seperti kejadian April lalu. Sekali lagi saya berharap, Then Dorjee Sherpa yang dimaksud bukanlah seorang yang pernah menyajikan makan siang untuk kami bertiga di Dingboche. Jikapun iya RIP Chef Dorjee.

IMG_5669

 

 

4 thoughts on “The Sherpas

  • October 7, 2015 at 3:10 pm
    Permalink

    pencarian saya ttg Sherpa berujung di blog ini, setelah semalam ngeliat Everest. Sebuah perjalanan yang membutuhkan stamina fisik, materi bahkan nyali hehe….Sherpas wherever their are, semoga selalu dilindungi…

    Reply
    • October 7, 2015 at 3:28 pm
      Permalink

      Hi Dwi, thanks commentnya. Untuk pendaki biasa seperti kami, mendaki Everest dan pegunungan Himalaya lainnya hampir ga mungkin tanpa peran Sherpa.

      Amin … semoga selalu dilindungi..

      Reply
  • November 9, 2016 at 4:28 pm
    Permalink

    Tulisan yang bagus dan menyentuh setiap katanya benar-benar saya bayangkan tentang pertemuan kalian dengan Then Doorje Sherpa. Dalam rangka persiapan mau ke Nepal walau hanya jalan-jalan di Kathmandu dan Pokhara sepertinya saya ingin menjajal trekking ke ABC sebagai cita-cita berikutnya.

    Reply
    • November 9, 2016 at 4:32 pm
      Permalink

      Selamat menikmati Kathmandu & Pokhara, jangan lupa mampir Bhaktapur

      Reply

Leave a Reply