No More Space on Camp 2

14 November 2013. Setelah beristirahat selama 2 malam di desa Pangboche, saya dan Climbing Sherpa kami–Doma C. S. Sherpa–kembali ke Base Camp. Dome berangkat terlebih dulu, sementara saya menyusul siang harinya, memanfaatkan waktu untuk merevisi jadwal ekspedisi. Menyesuaikan dengan kondisi tim saat itu. Dari Pangboche, saya harus menyeberangi ngarai yang gersang dan sungai berwarna biru es, dengan latar Gunung Ama Dablam. Sebuah panorama yang sangat indah.

Saya berpapasan dengan pendaki senior dari Austria yang sedang berjalan pulang dari Base Camp. Ia bercerita bahwa dia sudah mencoba untuk melakukan Solo Climb dari Camp 3 ke Puncak. Tapi persis di bawah Dablam (dalam bahasa Sherpa berarti Pendant atau Kalung), sebutan untuk bongkah es yang menggantung di bawah puncak Ama Dablam, ia berhenti. Ia tidak berani melanjutkan perjalanan. Selain karena belum ada jalur ke puncak, tingginya timbunan salju membuat ia memutuskan bahwa terlalu berbahaya untuk melanjutkan pendakian tersebut.

Advanced Base Camp
Advanced Base Camp

Memang hampir semua tim gagal mendaki Ama Dablam pada musim ini. Siklon di India yang terjadi pada awal bulan Oktober 2013 mengakibatkan salju yang tebal di seluruh Himalaya, terutama di puncak gunung dan celah tingginya. Salju yang tebal ini menyebabkan sulitnya pemasangan Fix Rope ataupun pendakian dengan teknik Alpine Style. Untuk melakukan pendakian ke puncak Ama Dablam, pendaki harus memasang Ice Screw pada Blue Ice. Tapi es berwana biru itu sulit ditemukan di bawah tumpukan salju yang tebal tersebut. Selain itu resiko Avalanche pun mengancam keselamatan para pendaki. “Tidak masalah,” pikir saya, toh kami masi punya banyak waktu, siapa tahu dengan cuaca cerah seperti sekarang jalur ke puncak akan terbuka. Sore itu saya tiba kembali di Base Camp.

Esok paginya, saya berdua bersama Nikk berangkat menuju Advanced Base Camp (ABC). Perjalanan terasa ringan, mungkin karena saya sudah teraklimatisasi dengan baik.  Kami dibantu oleh Dzangbu, porter tim, untuk memindahkan logistik ke ABC. Jam 14.30 saya tiba di ABC dan segera memasang tenda sambil menunggu kedatangan Nikk. Karena space terbatas, terpaksa tenda saya dirikan di atas es. “Malam ini bakal sangat dingin,” pikir saya saat itu. Jam 17.30 Nikk akhirnya sampai di ABC, kami pun memasak salju untuk minum dan makan malam.

“Selamat pagi!” sapa Doma. Ia bisa sedikit bahasa Melayu. Ia menyusul tadi pagi dari Base Camp. “Sleep well? How do you feel?” “I’m good, but Nikk was coughing all nite,” jawab saya.  Maklum, ini kesempatan pertama untuk Nikk mencapai ABC. Nampaknya ia belum teraklimatisasi pada ketinggian 5.400 meter ini. Nikk memutuskan untuk turun ke Base Camp, sementara saya dan Doma melanjutkan perjalanan ke Camp 1. Logistik di Camp 1 sangat melimpah, maklum logistik untuk 6 orang tersisa untuk kami berdua. Kami segera memilah-milah logistik, sebagian untuk dibawa besok ke Camp 2, sisanya disiapkan untuk dibawa turun ke Base Camp.

Tent at Camp 1
Tent at Camp 1

17 November 2013. Hari ini merupakan ujian buat saya. Kami berdua harus memindahkan logistik ke Camp 2, termasuk tenda, sleeping bag, peralatan pendakian, kamera, alat masak dan makanan. Kami  membagi beban, masing-masing 20 s/d 25 kg. Kami pun mulai mengenakan Ice Boot. Saya, sadar mulai saat ini jalur pendakian akan menjadi teknikal dan sulit. Jalur pendakian dengan Grade E5, E berarti membutuhkan tingkat endurance yang sama dengan mendaki Mt. Everest dan gunung Eight-Thousanders lainnya, 5 berarti membutuhkan kemampuan teknis rock dan ice climbing. Mendaki Ama Dablam memang diakui pendaki dan sherpa lebih sulit dari Mt. Everest.

Hari itu saya kepayahan, rupanya beban yang seharusnya normal untuk gunung di Indonesia, terasa sangat berat pada ketinggian 6.000 meter. Ransel 60 liter yang saya gunakan terlalu tinggi, sehingga menghalangi pandangan saya ketika memanjat tebing. “Mana sih jalurnya?” saya bergumam sambil mencoba melihat ke atas. “You are too slow!” kata Doma sambil cemberut. “My camera equipment is to heavy,” keluh saya mencari-cari alasan. “Ama Dablam is second most technical mountain in the world!” katanya berkali-kali, “Ya ya ya,” jawab saya sedikit kesal. Memang sih saya membawa Canon 5D, Go Pro, kamera saku, power bank, dsb, tapi tentu saja itu bukan alasan. Diputuskan, Doma terlebih dahulu ke Camp 2 untuk membangun tenda, sedangkan saya melanjutkan memanjat sampai ke Yellow Tower.

Scrambling to Yellow Tower
Scrambling to Yellow Tower

Yellow Tower adalah tebing yang sangat terkenal, tingginya 12 meter persis sebelum Camp 2. Setelah memanjat beberapa tebing, traversing, scrambling menyusuri gigiran yang diapit jurang ratusan meter dalamnya, saya pun dapat melihat Yellow Tower. Nampak beberapa pendaki sedang melakukan abseiling turun dari Camp 2, sementara pendaki lain menunggu giliran untuk naik. “Traffic Jam,” pikir saya. Tiba-tiba terdengar panggilan radio dari Doma…

“No More Space on Camp 2!”

“We have to go back to Camp 1,” katanya lagi.

Tulisan dan foto oleh Fedi Fianto.

Fedi Fianto

Selain melakukan kegiatan Mountaineering; Ia juga menekuni olahraga Triathlon, Obstacle Race, dan Scuba Diving. Ia selalu berusaha untuk “doing extra miles” di setiap tantangan yang dipilihnya. Sampai saat ini ia telah berhasil menyelesaikan 2x IRONMAN Race; IRONMAN Western Australia dan IRONMAN Korea, yaitu long distance triathlon dengan jarak renang 3,8km, sepeda 180km, dan lari 42km (Full Marathon), Tokyo Marathon, dan Spartan Beast Malaysia.

One thought on “No More Space on Camp 2

Leave a Reply