Not Broken Just Bent

13 November 2013. Kehilangan Tim Leader merupakan pukulan berat untuk tim. Tim Leader kami, Taufan Hidayat, harus dievakuasi ke Kathmandu karena terdiagnosa gejala HAPE (High Altitude Pulmonary Edema), sebuah kondisi di mana terjadi akumulasi cairan di paru-paru akibat tipisnya oksigen di ketinggian ekstrim. Kondisi ini bisa mengancam jiwa.  Kabar dari Base Camp ini sangat mengejutkan saya dan Gethuk yang saat itu berada di Desa Pangboche untuk beristirahat.

Advanced Base Camp
Advanced Base Camp

Kami sama sekali tidak menyangka kalo Taufan bisa terkena kondisi tersebut, mengingat di antara kami, dia satu-satunya yang sudah pernah mencapai ketinggian 6.000 meter sebelumnya, yaitu puncak Island Peak 6.189 meter dpl pada tahun 2011. Saya segera menghubungi manajer tim di Jakarta untuk berkoordinasi, terutama untuk memberi kabar ke keluarga dan mengurus klaim asuransi perjalanan.

Untungnya kami menggunakan asuransi perjalanan yang menanggung biaya evakuasi dengan helikopter dan perawatan rumah sakit. Apabila tidak memiliki asuransi, kami harus membayar sendiri biaya evakuasi dengan helikopter yang mencapai USD 8.000, belum termasuk perawatan rumah sakit. Agen pendakian kami  pun memiliki asuransi ekspedisi, sayangnya hanya menanggung satu kali evakuasi dengan helikopter.

Oleh karena itu, pada kontak radio pertama siang itu dengan Base Camp, Climbing Guide kami–Ganesh Rai–meminta ekspedisi agar dibatalkan dan seluruh tim terbang bersama dengan helikopter ke Kathmandu, mengingat hanya ada satu kali evakuasi. Namun saya jelaskan bahwa kami memiliki asuransi yang menanggung biaya masing-masing anggota tim.  Pada kontak radio itu, kami memutuskan untuk segera memanggil helikopter, selain akan menjemput Taufan di Base Camp, juga akan mendarat di Pangboche untuk menjemput Gethuk yang saat itu terkena gejala Acute Mountain Sickness.  Gethuk pun memutuskan untuk menemani Taufan ke Kathmandu.

Helikopter pun mendarat siang itu di Pangboche. Saya dan Climbing Sherpa–Doma C.  Sherpa–ikut mengantar Gethuk ke Helipad di bagian atas desa Pangboche. Saat penjemputan itu saya baru sadar bahwa Climbing Guide kami ikut di helikopter tersebut, ternyata ia pun mengaku sakit. Hal ini sama sekali tidak kami duga. Tidak hanya kehilangan Team Leader dan satu anggota tim, kami pun harus kehilangan Climbing Guide. Tim Leader dan Climbing Guide adalah elemen utama dalam sebuah ekspedisi. Kami sempat tertegun. Doma berkata bahwa ia tidak lagi yakin bahwa ekspedisi ini akan berhasil.  Ia nampak sangat pesimis.

Acclimatization to 5.000 meter
Acclimatization to 5.000 meter

Saya menegaskan akan melanjutkan ekspedisi ini. Walaupun pada saat itu hanya saya, Nikk, dan Dome yang tersisa tapi saya sangat yakin dapat menyelesaikan ekspedisi ini. Tidak ada alasan untuk gagal, berdasarkan ramalan cuaca, Ama Dablam akan cerah seminggu ke depan, jalur Fix Rope sudah berhasil mencapai Camp 3, kondisi fisik saya pun sangat baik dan berhasil beraklimatisasi dengan ketinggian. Semua faktor mendukung keberhasilan ekspedisi. Kami harus melanjutkan ekspedisi ini!

Not broken just bent. Lirik lagu dari Pink ini menemani perjalanan kami semenjak dari Lukla. Nikk memang sengaja mempersiapkan playlist lagu yang easy listening buat menemani trekking kami. Ia memutarnya menggunakan portable speaker sepanjang perjalanan. Salah satunya lagu dari Pink. Buat saya selain memang enak didengar, apalagi versi The Chipmunk yang lucu, lagu ini juga memberi semangat untuk menghadapi tantangan-tantangan ekspedisi ini. Tulisan dan foto oleh Fedi Fianto.

Fedi Fianto

Selain melakukan kegiatan Mountaineering; Ia juga menekuni olahraga Triathlon, Obstacle Race, dan Scuba Diving. Ia selalu berusaha untuk “doing extra miles” di setiap tantangan yang dipilihnya. Sampai saat ini ia telah berhasil menyelesaikan 2x IRONMAN Race; IRONMAN Western Australia dan IRONMAN Korea, yaitu long distance triathlon dengan jarak renang 3,8km, sepeda 180km, dan lari 42km (Full Marathon), Tokyo Marathon, dan Spartan Beast Malaysia.

4 thoughts on “Not Broken Just Bent

Leave a Reply