Knowing when to stop

Nov 12

otw camp1

Udara dingin mengalir masuk saat pintu tenda dibuka.  Beberapa ekor burung gagak terbang mendekat mencari remah makanan di antara lapisan es dan bebatuan di sekitar tenda. Pagi itu kami ada di camp I Gunung Ama Dablam, dengan ketinggian 5750 m. Dijadwalkan hari ini kami akan melakukan orientasi medan menuju camp II dan turun kembali untuk beristirahat di base camp untuk  rest day.

Selepas siang, tim sudah berkumpul di Base Camp untuk menikmati hidangan siang, sambil membicarakan strategi untuk upaya menggapai puncak Ama Dablam dalam beberapa hari  ke depan. Setelah mempertimbangkan kondisi cuaca, diputuskan setelah dua hari beristirahat di base camp, tim akan bergerak ke camp I pada tgl 15 Nov, lanjut ke camp II sehari kemudian, kemudian camp III pada hari berikutnya dan dijadwalkan untuk melakukan summit attempt pada tanggal 18 November 2013. Moral tim berada dalam kondisi tertinggi untuk segera bisa menggapai puncak Ama  Dablam.

Menjelang sore, dua anggota tim, climbing sherpa Domje dan Fedi memutuskan untuk turun ke Pangboce untuk memaksimalkan istirahat  di lodge, sekaligus mencari akses internet untuk mengabarkan perkembangan pendakian kepada tim pendukung di Jakarta.

Nov 13 – Base camp Ama Dablam

Pukul 3 pagi, saya terbangun , terbatuk-batuk panjang, dan mulai merasakan nyeri pada tulang rusuk sebelah kanan saya. Setelah berhari-hari pada ketinggian ekstrim dan suhu udara dibawah titik nol hampir seluruh anggota tim terserang batuk, saat itu saya mengganggap sebagai suatu hal yang lumrah saja. Hingga matahari terbit pagi itu, beberapa kali saya terbangun dengan intensitas nyeri yang bertambah.

Pagi saat sarapan bersama, saya mendiskusikan perkembangan kondisi  tersebut dengan climbing guide tim kami. Ia menyarankan agar saya beristirahat dan berharap bisa segera pulih. Namun intensitas nyeri terus kian bertambah sepanjang pagi itu, terutama saat batuk. Saya masih terus mencoba membantah bahwa hal tersebut merupakan gejala dari pulmonary edema. Nyeri juga saya rasakan saat menarik nafas panjang dan mengembungkan paru-paru saya. Sampai pada satu titik akal sehat saya berkata untuk mendengarkan pesan yang disampaikan oleh tubuh saya. Saat itu tidak terasa, saya meneteskan air mata karena tahu harus mengubur mimpi yang selama dua tahun terakhir ini saya upayakan.  Saya menghapus kalimat “ masa sih ngga bisa bertahan untuk lima hari kedepan ?”  dari benak saya dan  memutuskan untuk mundur dari ekspedisi . Saya tidak ingin mempertaruhkan hidup saya di atas gunung ini. Masih banyak mimpi besar lain yang harus saya wujudkan bersama orang-orang terbaik saya,

Menjelang makan siang,  saya mengumpulkan anggota tim yang ada, memberikan informasi terkini mengenai kondisi saya dan mendiskusikan tindakan terbaiknya. Pemandu pendakian saya Ganesh menyarankan saya untuk segera mendapatkan perawatan medis, karena berdasarkan pengalamannya penanganan pulmonary edema yang terlambat bisa berakibat fatal yang berujung pada kematian. Setelah itu kordinasi dilakukan dengan cepat, dengan tim yang ada di Pangboche, trekking agent kami di Kathmandu dan tim support kami di Jakarta. Dan saya mulai memasukkan barang-barang  ke dalam ransel besar dan duffle bag.

Menjelang sore, saat helicopter Simrik Air berlahan lepas landas dari Base camp Ama Dablam, lagi.. saya harus meneteskan airmata untuk mengubur mimpi ini.

Swanco International Hospital – Kathmandu

26 ruang perawatan di Swanco International Hospital dipenuhi pasien antar bangsa yang menderita AMS.  Saya lega saat dokter berkata, “ Anda membuat keputusan yang tepat untuk segera turun .” Saya dan Getuk mendapatkan diagnose yang kurang lebih sama, malam itu kami berdua terpaksa menginap di ruang emergency karena tidak ada ruangan lain yang kosong.

knowing when to stop, because nothing is more precious than life and living it with your love ones

camp1

7 thoughts on “Knowing when to stop

  • November 16, 2013 at 10:12 am
    Permalink

    keputusan yang tepat kakaaaaa-kakaaaa.. jangan sedih & jangan drop mental eaaaa. Kalian semua ruarrr biasaaaa!

    Reply
  • November 16, 2013 at 11:55 am
    Permalink

    Ama Dablam tidak kemana-mana, you can always be back again someday. Wise decision Fan!

    Reply
  • November 24, 2013 at 2:09 am
    Permalink

    *terharu bacanya* Tetap semangat, Taufan! Masih ada kesempatan lain untuk mencapai Ama Dablam!

    Reply
  • Pingback: Ama Dablam Summit Day | Gapai Tinggi

Leave a Reply