Hampir Matterhorn

Iya, lagi-lagi hampir ya! Hahaha! Bayangkan saja, persiapan sudah matang, termasuk di dalamnya latihan fisik dan mengurus ticketing dan akomodasi di Swiss. Namun rupanya kami terlambat beberapa hari untuk mendaki Matterhorn yang ternama itu.

Ini dimulai ketika semangat bertualang saya pribadi masih 666%, seiring mendaratnya ban-ban perkasa pesawat Qatar Airways di landasan pacu bandara Københavns Lufthavn, Denmark. Angin dingin musim gugur segera menyambar muka saya. Segar! Hingga saya lupa sejenak kemana setelah itu harus pergi. Setelah menginap satu malam di pusat kota yang didominasi sepeda itu, berangkatlah kami menuju Swiss lewat jalur darat, membeli tiket kereta dan segera meluncur ke selatan Eropa.

Zermatt
Zermatt

Saya bukan tipe pelancong yang banyak persiapan. Mencapai Zermatt sebagai persinggahan terujung ini tidaklah sesulit yang saya bayangkan. Lagi pula, saya memang tidak pernah menganggap segala perjalanan itu sulit, tapi juga tidak meremehkan (Halah!).  Konon, Zermatt ini adalah salah satu desa terindah di lereng pegunungan Alpine bagian Swiss. Apa yang sering saya lihat di foto-foto  (yang kadang ngibul) itu ternyata seindah aslinya di sini. Musim gugur datang tepat waktunya. Sesekali salju turun namun tak lebat, tapi sudah membuat basah.  Dan awan mendung yang menyergap desa keren ini menutupi pandangan saya untuk melihat gunung Matterhorn yang katanya terlihat jelas dari jembatan utamanya. Bikin penasaran saja! Huh!

Kami istirahat satu malam, dan pagi berikutnya kami baru bisa menikmati lukisan alam Zermatt sambil jogging ria. Melintasi beberapa bukit Alpine, desa Zermatt (1.608 mdpl) yang tertata dengan baik di sebuah lembah besar ini rupanya sudah memiliki banyak fasilitas pendukung turisme, seperti pusat informasi, cable car, hotel, pondok makan, yang bahkan dikelola oleh keluarga-keluarga kecil dengan bangunan rumah mungil dari kayu dengan desain sesuai selera saya. Hehehe… Makin ke atas pegunungan Alpine, fasilitas tersebut makin mahal, namun tidak semahal kelengkapan di jalan utama Zermatt yang menawarkan gaya hidup mewah yang membuat saya berpikir ribuan kali untuk bisa belanja alat-alat mendaki di sana. Swiss memang negara mahal.

Hari berikutnya kami baru bisa bertemu dengan pemandu gunung yang kami kontak beberapa minggu sebelum saya mendarat di tanah Eropa ini. Dan dia memberitakan habisnya musim pendakian ke Matterhorn kali ini. Iya, lain kali saya akan datang lebih awal, sekitar Juli – September, deh! Walhasil, kami harus mencari destinasi lain untuk kami daki, karena tujuan utama kami ke tanah Zermatt ini adalah mendapatkan ilmu alpine climbing. Maka dipilihlah tebing Riffelhorn yang letaknya tidak jauh dari Matterhorn.

Rifflehorn
Rifflehorn

Tebing Riffelhorn (4.400 mdpl) yang berbentuk boulder raksasa ini menjulang  setinggi 400-an meter, menghadapkan wajah cadas berbatunya ke arah kami, berdiri tegak seperti tanduk di antara puncakan-puncakan bersalju di titik-titik  tertinggi di Swiss seperti Castor, Monte Rosa, Dufour Peak, dan tentunya Matterhorn serta Mont Blanc di sebelah baratnya. Pemandu membawa kami ke dinding selatan Riffelhorn dan memilih titik awal pemanjatan di sebuah ceruk kecil berumput. Ini murni pemanjatan tebing dengan teknik alpine style. Sepatu boot kaku adalah jenis sepatu yang harus kami gunakan. Teknik memanjatnya pun agak berbeda dengan pemanjatan tebing freestyle, karena inilah yang kami butuhkan untuk dipelajari, terutama pemanjatan di tebing es semacam ini. Sepuluh meter kami yang pertama terasa sulit dalam melangkah, hingga di beberapa titik rehat di tengah tebing kami merasa belum lincah melakukan gerakan pemanjatan seperti yang dicontohkan pemandu kami. Malah bisa dikatakan kami bergerak seperti cicak ketimbang seperti pemanjat lantaran gerakan menyeret badan lebih mendominasi. Memalukan memang! Walau demikian, kami berhasil menggapai puncak Riffelhorn dengan selamat. Yes!

Saya sendiri merasa kegirangan banget! Ini adalah dinding hampir vertikal tertinggi yang pernah saya panjat. Menggambarkan lagi betapa susah payahnya saya terseok memanjatnya tadi, membuat perasaan saya meloncat-loncat senang! Tentunya ini juga berkat mahirnya sang pemandu membawa kami ke atas sini. Selebrasi kecil kami gelar di puncak Riffelhorn, kemudian kami langsung turun kembali lewat jalur yang berbeda. Dan hari pun sudah menyentuh sore, kami bergegas ke stasiun terakhir Gornergrat menunggu kereta yang akan membawa kami kembali ke dusun Zermatt di bawah sana.

Dan misi pun belum tuntas. Hampir saja kami menggapai tinggi Matterhorn, tetapi Riffelhorn dan Zermatt sudah sedikit memuaskan dahaga kami. Tak masalah lah!

 

Peta Riffelhorn:

icon-car.pngKML-LogoFullscreen-LogoQR-code-logoGeoJSON-LogoGeoRSS-LogoWikitude-Logo
Matterhorn

loading map - please wait...

Matterhorn 46.024586, 7.748032

.

5 thoughts on “Hampir Matterhorn

Leave a Reply