Berlari di Bawah Titik Beku

Angin siang itu sangat dingin menusuk tulang. Di daerah yang termasuk area Lingkaran Arktika ini, pada bulan November, siang hari suhu bisa mencapai -5 C. Tapi niat di hati sudah bulat, hari itu saya akan berolahraga lari dari guesthouse tempat kami menginap ke Airport. Mengenakan base layer, jersey merah Indo Runners, dan bercelana pendek, saya memulai aktifitas lari. Hujan salju turun tadi malam. Saya harus berhati-hati ketika berlari karena lapisan es yang terkena matahari membuat jalan menjadi sangat licin.

Longyearbyen, Svalbard
Longyearbyen, Svalbard

Kami sudah beberapa hari bertualang di Longyearbyen, sebuah kota kecil di Svalbard. Kota yang terletak di lingkaran Arktika ini merupakan salah satu pemukiman paling Utara di Bumi, dekat dengan Kutub Utara. Sebenarnya ada pemukiman lain yang lebih jauh ke Utara milik Rusia bernama Pyramiden. Namun Pyramiden sudah tidak lagi dihuni dan ditinggalkan begitu saja, lengkap dengan segala isinya. Banyak kegiatan wisata yang bisa dilakukan di sini, glacier trekking, berpesiar dengan kapal ke salah satu glacier terbesar di dunia untuk melihat Beruang Kutub hidup di habitatnya, dog sled, berburu Aurora Borealis, melihat Midnight Sun, dan berbagai kegiatan lainnya.

Seperti tour keliling kota Longyearbyen. Posisi guesthouse kebetulan berada di ujung Selatan, sedangkan Airport berada pada ujung lainnya. Pertama yang saya lalui adalah fasilitas sekolah, ya pemukiman ini memiliki sekolah dari sekolah dasar sampai sekolah menengah.  Fasilitas sekolah ini dilengkapi dengan Gymnasium, lengkap dengan kolam renang indoor. Sayang kami tidak sempat mencoba berenang di kolam renang itu. Saya terus berlari melintasi kota. Melewati supermarket COOP, satu-satunya swalayan di sini, tempat kami belanja perbekalan sehari-hari.

Tak jauh dari sana terdapat Universitas Svalbard. Universitas ini beberapa tahun belakangan ini menjadi sangat terkenal. Universitas ini menjadi pusat riset penemuan fosil Predator X (Pliosaurus). Dengan panjang diperkirakan 15 meter dan bobot 45 ton, dinosaurus ini jauh lebih besar dibandingkan dengan T-Rex. Universitas ini juga dilengkapi dengan sebuah museum yang sangat menarik. Di dalamnya berisi sejarah Svalbard, dari penghuni pertama yang merupakan awak kapal pemburu Paus, pemboman Nazi Jerman pada perang dunia kedua karena Svalbard merupakan pusat stasiun cuaca bumi, industri pertambangan batubara, sampai perannya di masa kini. Selain itu terdapat replika Beruang Kutub, shelter para penghuni pertama, dan hasil penelitian Predator X.

Sebenarnya tidak pernah terlintas sebelumnya untuk berlari di Longyearbyen. Tapi pada hari sebelumnya, saya melihat ada beberapa pelari yang berlari melintas kota kecil itu. Hari yang sangat pendek juga sempat menyebabkan keraguan. Maklum Matahari pada bulan November seperti malas bersinar di sini. Cahaya Matahari yang redup menyebabkan sepanjang hari serasa selalu di sore hari dan itupun hanya beberapa jam saja. Tapi sebagai pehobi olahraga lari, ini adalah pengalaman yang sayang untuk dilewatkan. Ternyata setelah mulai berlari, badan menjadi panas dan suhu dingin tersebut tidak terasa lagi.

Polar Bear Signage
Polar Bear Signage

Pada saat meninggalkan area pemukiman saya sempat tertegun melihat Polar Bear Signage. Tanda ini memperingatkan bahwa di area tersebut rawan bertemu Beruang Kutub. Kepalang basah, saya pun melanjutkan lari ke arah Airport melalui jalan panjang yang sepi. Angin dingin pun berhembus lebih kencang. Sesampainya di Airport saya langsung buru-buru menghangatkan badan di depan pemanas ruangan.  Tentunya, tidak lupa untuk berfoto di depan Polar Bear Signage yang unik di depan Airport.

Tips: Svalbard, atau dikenal juga sebagai Spitsbergen, adalah kepulauan paling utara di Bumi. Lokasi ini dapat dicapai dengan penerbangan Iceland Air dari Oslo, Norwegia.  Untuk berlari di sini, siapkan baselayer dengan material penahan suhu badan yang baik serta sarung tangan untuk menghindari frostbite akibat angin yang sangat dingin. Matahari pada musim dingin hanya muncul beberapa jam saja, tapi pada musim panas bisa muncul sepanjang hari, fenomena ini dikenal dengan nama Midnight Sun. Tulisan dan foto oleh Fedi Fianto.

Peta Longyearbyen, Svalbard:

icon-car.pngKML-LogoFullscreen-LogoQR-code-logoGeoJSON-LogoGeoRSS-LogoWikitude-Logo
Longyearbyen, Svalbard

loading map - please wait...

Longyearbyen, Svalbard 78.220000, 15.650000

Fedi Fianto

Selain melakukan kegiatan Mountaineering; Ia juga menekuni olahraga Triathlon, Obstacle Race, dan Scuba Diving. Ia selalu berusaha untuk “doing extra miles” di setiap tantangan yang dipilihnya. Sampai saat ini ia telah berhasil menyelesaikan 2x IRONMAN Race; IRONMAN Western Australia dan IRONMAN Korea, yaitu long distance triathlon dengan jarak renang 3,8km, sepeda 180km, dan lari 42km (Full Marathon), Tokyo Marathon, dan Spartan Beast Malaysia.

2 thoughts on “Berlari di Bawah Titik Beku

  • July 19, 2013 at 1:37 pm
    Permalink

    keren mas, ha…ha svalbar pingin sekali kesana tapi rasa ga sanggp lihat dinginnya, lofoten aj udah sedingin ini apalagi svalbar ya , bagus banget blognya he….he

    Reply
    • July 19, 2013 at 2:00 pm
      Permalink

      Aurora borealis pasti keliatan lebih indah di Lofoten. Smoga lain kali bisa mampir ke sana 🙂

      Reply

Leave a Reply