Disergap dingin Gunung Lawu

“Every day is a good day when you run.” -Kevin Nelson

Desa Cemoro Kandang,  Sabtu pekan lalu, Jalan lintas Tawangmangu – Sarangan pekat tertutup kabut. Ladang sayur dan rumah para petani yang menjadi bagian lanskap desa tak nampak sama sekali siang itu, jarak pandang berkisar 5-8 meter saja. Kendaraan yang melintas menghidupkan lampu utama dan  lampu hazard selama melintas jalur curam dan berliku.

Gunung Lawu
Gunung Lawu

Bau semak basah selepas hujan lantas menyeruak begitu saya membuka pintu mobil di tepi jalan.  Suhu udara yang dingin memaksa  saya menaikkan resluiting  fleece  hingga seleher. Rencana untuk menggunakan jersey lari siang itu dibatalkan. Saya  memilih untuk menyimpan panas dalam balutan  polar fleece, mengingat dalam beberapa jam kedepan  pastinya  akan terpapar udara dingin, saat berlari ke puncak Gunung Lawu.

Berada tepat di kaki Gunung Lawu, Cemoro Kandang adalah jalur pendakian  yang paling populer dibandingkan empat jalur pendakian yang lain. Walaupun lintasannya lebih panjang dan berputar namun secara umum cukup landai dibandingkan dengan lintasan lainnya. Pastinya lintasan ini jauh lebih “dengkul”  friendly dibanding dengan lintasan Cemoro Sewu yang jaraknya hanya 500 meteran dari Cemoro Kandang.

Menariknya,  Gunung Lawu ini tak hanya didatangi oleh para pendaki dan pelari trail amatiran macam saya. Para peziarah yang didominasi oleh kalangan orang tua-tua juga kerap mengunjungi tempat-tempat yang dianggap keramat di gunung ini. Tanggal kunjungan ziarah yang ramai adalah tanggal 1 Suro, malam tahun baru Hijriah. Pada malam itu biasanya Gunung Lawu diserbu ribuan orang, baik pendaki maupun para peziarah. Sabtu lalu saya hanya bertemu dua orang pendaki dan dua orang peziarah .

Biasanya saya lebih memilih untuk memulai acara lari trail di pagi hari, untuk menghindari sengatan panas matahari dan pertimbangan safety saat melintas di medan yang jarang saya lalui, apalagi saat berlari seorang diri.  Tapi hari itu saya tidak punya banyak pilihan, baru jam 2an itulah saya mulai menjejakkan kaki di lintasan Cemoro Kandang.

IMG_5151

Udara dingin kian menyengat selepas pos dua, rasa dingin itu terutama dirasakan pada bagian jari tangan dan telinga. Penunjuk suhu udara di Suunto Vector yang saya kenakan menunjukan angka 11 derajat  saat itu. Lintasan sepanjang 12 km nyaris sepenuhnya tertutup kabut hingga saya tiba di puncak.  Lembah cantik, padang savanna  dan gumpalan awan yang luar biasa hanya sesekali terlihat sepanjang sore itu. Setelah mengambil beberapa gambar di puncak, saya segera bergerak turun sebelum gelap tiba.

Saya menempuh lintasan yang berbeda pada perjalanan turun, lintasan Cemoro Sewu. Lintasan tangga batu ini ternyata jauh lebih curam dari perkiraan awal.  Tinggi undakan batu sering tidak bisa diraih dalam satu hitungan langkah dan lompatan. Hujan dan  gelap yang mulai turun juga membuat saya tidak bisa mengembangkan kecepatan lari sama sekali. Dan azan magrib mulai terdengar sayup sayup di kejauhan saat saya masih berjuang menuruni undak-undakan batu yang basah oleh hujan.

Jam 7 malam saya sudah duduk manis dengan sepiring sate kelinci dan teh jahe, sebuah reward yang luar biasa, plus sergapan dinginnya angin, dan lagi.. saya menaikkan resluiting polar fleece yang sudah berkeringat itu.

Peta Gunung Lawu:

icon-car.pngKML-LogoFullscreen-LogoQR-code-logoGeoJSON-LogoGeoRSS-LogoWikitude-Logo
Gunung Lawu

loading map - please wait...

Gunung Lawu -7.627500, 111.194167

 

 

 

Leave a Reply