Berlatih Di Gunung Salak

salakAlan Hinkes, si raja 8000 meter yang sudah mendaki 14 puncak  8000 m atau lebih, berlari selama 1-3 jam hingga 4 kali dalam seminggu. Ia juga memasukan off road mountain biking dalam skedul latihannya.  Untuk membangun kekuatan mendaki yang prima, latihan yang dilakukannya adalah membawa beban berat di ransel dan mendaki pada tanjakan yang curam.

Sabtu lalu, kami mencoba berlatih ala raja 8000 meter ini, memasukan kurang lebih 25 kg beban di ransel kami dan menjajal terjalnya jalur pendakian Gunung Salak.

Ada satu galon aqua yang dipenuhi air, 2 liter air untuk dikonsumsi selama perjalanan naik dan turun, bekal makanan berkalori tinggi, raincoat, headlamp, cell phone dan perlengkapan P3k. Semuanya ada dalam ransel besar di punggung kami.

 

Keringat mengucur tak henti satu hari itu di hutan hujan basah Gunung Salak. Melalui tanjakan demi tanjakan dan menambah ketinggian meter demi meter. Setelah berhari-hari rutin berlari, bersepeda, dan berlatih beban, perlahan tapi pasti, otot-otot di bahu, pinggang dan punggung mulai bisa menerima beban berat tersebut.

Puncak memang tidak menjadi target kami Sabtu lalu, kami lebih fokus pada  kecepatan mendaki yang stabil dan berlatih melawan keinginan untuk berhenti saat otot-otot tubuh sudah mengatakannya. Menambah beberapa langkah lagi ke depan sebelum benar-benar berhenti.

gaPos 5 Cimelati
Pos 5 Cimelati

Ada satu hal menarik saat mendaki gunung ini, tiga kali berlatih di sana, tiga kali pula kami bertemu dengan para pengambil puing-puing pesawat Sukhoi. Awalnya saya berpikir pengambilan puing itu dilakukan karena inisiatif mereka saja, belakangan beberapa pengambil puing ini mengaku  dibayar oleh sebuah perusahaan untuk membawa turun puing Sukhoi. Mereka dibayar Rp 100 rb – Rp 150 rb perhari untuk pekerjaan menurunkan puing-puing itu.

Air di galon kami buang saat kami sudah mencapai batas waktu untuk turun hari itu. Melangkah ringan saat perjalanan turun, menempuh jalur yang berbeda, dan bergegas untuk segera tiba di desa demi selajur nasi liwet adalah rewards yang luar biasa untuk latihan hari itu. Makan nasi liwet bersama setelah latihan adalah buah persahabatan kami dengan para pendaki setempat yang tinggal di Desa Sadamukti. Di saung kang Edo yang terletak di depan kolam ikan, di sana lah biasanya kami beristirahat sambil menyantap sajian nasi liwet itu.

Secara administratif, Gunung Salak termasuk dalam wilayah kabupaten Bogor dan Sukabumi. Pengelolaan kawasan ini ada di bawah  Taman Nasional Gunung Halimun-Salak. Banyak yang mengira nama Gunung Salak berasal dari nama tanaman Salak, akan tetapi sesunguhnya nama gunung ini berasal dari bahasa sansekerta “Salaka” yang berarti perak. Maka Gunung Salak bermakna “Gunung Perak.”

if you still look cute at the end of your workout then you didn’t train hard enough  

Peta Gunung Salak:

icon-car.pngKML-LogoFullscreen-LogoQR-code-logoGeoJSON-LogoGeoRSS-LogoWikitude-Logo
Gunung Salak

loading map - please wait...

Gunung Salak -6.715833, 106.733333

 

 

 

 

2 thoughts on “Berlatih Di Gunung Salak

  • May 10, 2013 at 7:22 pm
    Permalink

    Muantap sobat sudah mendaki tinggi langsung ngeliweut di rumah kang basirun edo,tapi sayangnya sob ga tawar tawar tuh ame tetanga sebelah yang rumah loteng sob he he semangat terus sob ke gunungnya.

    Reply
    • May 16, 2013 at 2:31 pm
      Permalink

      Lain kali pasti mampir sob 🙂 makasi…

      Reply

Leave a Reply