Mendaki Menembus Batas Ketinggian

“Selamat! Oksigen dalam darah kamu 92%. Paling tinggi di antara semua pendaki  hari ini!”, ucap tenaga medis yang melayani kami saat itu. Ia berkeliling untuk mengukur satu persatu pendaki dan pemandu yang hari itu sampai di Machermo. Rupanya saya memiliki saturasi oksigen dalam darah yang cukup tinggi, seakan sudah lama tinggal di ketinggian tersebut. “Apakah kamu salah satu relawan yang tinggal di sini?”, tanyanya lagi untuk memastikan. Padahal kami baru saja sampai sore itu di Machermo, setelah hampir seharian berjalan dari Dhole. Nampaknya tubuh saya beradaptasi dengan baik terhadap ketinggian. Label berisi nama saya pun ditempelkan pada O2 Sat Challenge di salah satu sudut ruangan.

Machermo memiliki ketinggian 4.410 meter dpl hampir setinggi puncak Mt. Cartenz, salah satu dari 7 Puncak Dunia yang berada di Papua, Indonesia. Tingginya lokasi ini bisa menyebabkan berbagai gangguan kesehatan bahkan kematian akibat gagalnya tubuh beradaptasi dengan ketinggian. Penyakit ini disebut Acute Mountain Sickness (AMS). Penyakit  ini sebenarnya memiliki beberapa gejala, dari yang ringan seperti: sulit tidur, pusing, kelelahan ekstrim, dan hilangnya nafsu makan, sampai gejala berat seperti: kulit yang membiru, batuk darah, dan kehilangan kesadaran. Apabila dibiarkan kondisi ini dapat menyebabkan High Altitude Pulmonary Edema (HAPE) and High Altitude Cerebral Edema (HACE) yang mematikan. Dulu penyakit ini tidak dipahami dan menimbulkan banyak korban pendaki. Lebih banyak lagi korban di kalangan porter yang mendaki terlalu cepat untuk mengangkut perbekalan pendaki. Maklum pendapatan mereka tergantung banyaknya barang yang bisa mereka angkut.

Machermo memiliki lokasi yang strategis pada jalur trekking Everest Base Camp menuju Gokyo Ri. Di desa ini berdiri Porter Shelters and Rescue Posts, sebuah pusat kesehatan yang didirikan bagi para porter.  Fasilitas ini dijalankan oleh International Porter Protection Group, sebuah organisasi nirlaba, dengan tenaga medis yang terdiri dari sukarelawan dokter dan tenaga penyuluh. Selain memberikan pelayanan kesehatan gratis bagi para Porter, mereka pun memberikan penyuluhan kepada para pendaki mengenai AMS. Tempat ini pun merupakan pusat Rescue untuk wilayah sekitarnya termasuk Gokyo, celah Renzo La, dan celah Cho La.

Machermo's Porter Shelters and Rescue Posts
Machermo’s Porter Shelters and Rescue Posts

Sore itu, para pendaki berkumpul di sebuah ruangan untuk mendengarkan penjelasan tim penyuluh kesehatan. Ia menjelaskan bahwa pada ketinggian lebih dari 3.000 meter, berkurangnya tekanan udara menyebabkan molekul oksigen secara relatif berjarak lebih jauh satu sama lainnya dibandingkan di daerah yang rendah. Hal ini menghambat darah kita untuk mengikat oksigen tersebut. Tubuh kita membutuhkan waktu untuk secara alami beradaptasi dengan cara memproduksi darah baru. Mereka pun mengingatkan pentingnya mengidentifikasi gejala awal AMS, mengenalkan langkah preventif, dan langkah yang harus ditempuh apabila terkena AMS.

Rupanya hari itu, selain disambut oleh para tenaga medis yang ramah, kami pun disambut dengan hujan salju yang lumayan deras. Ini adalah hujan salju pertama semenjak selama perjalanan kami di EBC. Tentu saja kesempatan ini tidak kami sia-siakan begitu saja. Kegiatan penyuluhan pun ditutup dengan perang bola salju antar sesama pendaki dan tenaga medis. Malamnya kami pun disambut dengan pemandangan jutaan bintang di langit. Sungguh pengalaman yang tak terlupakan.

Travel Tips: Tips lengkap mengenai aklimatisasi bisa dibaca pada artikel “Aklimatisasi Pada Ketinggian Ekstrim”. Jangan bebani porter anda dengan beban berlebih, ingat kondisi yang tidak fit bisa menghambat proses aklimatisasi yang dapat membahayakan kesehatan mereka. Dengan membeli cinderamata di Machermo Post, kamu ikut menyumbang untuk kelangsungan fasilitas dan kesejahteraan para Porter. Tulisan dan foto oleh Fedi Fianto.

Lokasi:

icon-car.pngKML-LogoFullscreen-LogoQR-code-logoGeoJSON-LogoGeoRSS-LogoWikitude-Logo
Machermo

loading map - please wait...

Machermo 27.939820, 86.691742

Fedi Fianto

Selain melakukan kegiatan Mountaineering; Ia juga menekuni olahraga Triathlon, Obstacle Race, dan Scuba Diving. Ia selalu berusaha untuk “doing extra miles” di setiap tantangan yang dipilihnya. Sampai saat ini ia telah berhasil menyelesaikan 2x IRONMAN Race; IRONMAN Western Australia dan IRONMAN Korea, yaitu long distance triathlon dengan jarak renang 3,8km, sepeda 180km, dan lari 42km (Full Marathon), Tokyo Marathon, dan Spartan Beast Malaysia.

Leave a Reply