Langit Jatuh di Tórshavn

.

Dipengaruhi arus Atlantik yang sangat dinamis, kepulauan Faroe memiliki cuaca berawan sepanjang tahun, membuatnya seperti negara tropis di lingkaran Arktika, sejuk di musim panas dan tidak terlalu dingin di musim salju. Dan itu yang saya rasakan di suatu malam di tengah kota Tórshavn. Sabtu malam yang lain dalam hidup saya. Pepohonan besar di sepanjang jalan. Awan bergantian bergulung dengan cepat, sesekali menyingkapkan wajah bulan purnama dibaliknya. Gerimis memang, tetapi tidak membuat kehidupan malam Tórshavn berhenti berdenyut hingga pagi. Anak-anak muda berpesta di bar dan klub malam, dan juga bersenang-senang di jalanan. Toko-toko yang biasanya sudah tutup pada pukul 18:00, kali ini membuka diri hingga larut. Tak terbayangkan jika musim puncak wisata tiba, pasti akan lebih hingar bingar. Tetapi kali ini saya beruntung tidak menemui banyak orang, sesuai jenis perjalanan yang saya inginkan, yaitu membiarkan jiwa raga berjalan sendirian. Dan hingga saya memesan satu tempat menonton film di  kota itu.

Saya akui pengetahuan saya akan Faroe sangatlah terbatas. Sebelum datang ke kepulauan surgawi ini, bayangan saya hanya menggambarkan sebuat tempat yang sangat luar biasa alami dengan sedikit bumbu modernitas. Rupanya saya keliru, Faroe memiliki hampir segalanya dalam ukuran kecil. Faroe adalah dunia masa lalu sekaligus modern, tetapi lebih baik daripada Svalbard yang 2 minggu sebelumnya saya kunjungi. Sekolah-sekolah dengan sistem pendidikan yang bagus, toko-toko yang menjual elektronik lengkap, kehadiran transportasi yang baik, dan ratusan speed boat mewah di pelabuhannya. Termasuk keberadaan sebuah gedung bioskop kuno Havnar di jalan Tinghúsvegur. Saya tidak menyadarinya jika saya tidak mengecek masuk, karena gedung tua itu sama sekali tidak mendisplay poster-poster film di bagian luar seperti layaknya bioskop di Indonesia.

Oke, lalu saya mengecek satu persatu film yang sedang diputar. Saya memilih satu film. Lalu saya menontonnya pada pukul 23:00. Dengan layar tidak terlalu besar dan tempat duduk yang tidak mewah, lagi-lagi suasana di dalamnya teramat beda dibanding kemewahan bioskop di Indonesia. Pastilah tidak ada pendingin ruangan. Gila saja! Namun ada kesamaan seperti pada bioskop-bioskop lama yang dulu pernah saya alami, yaitu ada jeda di tengah film yang diputar, mempersilakan penonton untuk istirahat sebentar, juga memberikan saya kesempatan mengamati kecantikan perempuan-perempuan Faroe yang aduhai. Hehehe…

forweb2

Ada satu hal yang menarik perhatian saya. Kali ini berhubungan dengan penduduk lokal. Mungkin karena kedekatan mereka dengan alam maka imbasnya membuat mereka ramah. Saya mengalaminya sendiri saat berhubungan dengan mereka. Ngobrol di kafe bahkan hanya bertemu di jalan pun dengan mudah kita bisa merasakan hangatnya kehidupan Faroe. Bisa jadi saya salah mengartikannya, tetapi sejauh ini menurut wawasan sempit saya, geografis pantai di berbagai tempat di dunia telah menciptakan kehidupan yang dinamis dan lebih terbuka yang berimbas pada keramahan terhadap sesama. Saya rasa, bangsa Viking yang katanya ganas pun di satu sisi mungkin juga ramah. Selera humor yang lebih tinggi juga terjadi di Islandia dan Norwegia serta negara-negara Skandinavia lainnya, dan bisa dibandingkan dengan karakter penduduk Eropa Tengah yang cenderung lebih kaku. Karakter penduduk Faroe yang tangguh yang terwarisi dari darah Viking, membuat komunitas kecil di kepulauan ini sangatlah hidup, terutama apresiasi tinggi mereka terhadap seni dan musik yang luar biasa. Bahkan bagi pelancong yang paling sinis pun, aura kegembiraan ini akan menghancurkan keangkuhannya. Hahaha!

forweb_f05

Dugaan saya memang keliru, Faroe memang begitu hidup dan modern. Film-film baru yang baru saja rilis di Amerika maupun daratan utama Eropa, sudah bisa ditonton di Faroe. Cek saja di www.bio.fo. Namun langit Faroe masih bergulung awan tebal dengan gerimis makin lebat saat saya pulang dari bioskop Havnar. Hawa di luar dingin? Tentu saja, Mas! Muda-mudi masih berpesta di luar, musik terdengar riuh di sudut-sudut kota, tidak peduli bahwa langit seakan hampir jatuh di Tórshavn, sama seperti judul film yang baru saja saya tonton, Skyfall.

 

Tautan terkait:
http://www.bio.fo/
http://en.wikipedia.org/wiki/Tórshavn

.

Leave a Reply