Basah Kuyup di Kepulauan Faroe

“Byurrrrrrr…!!!” Saya berharap banyak, hari itu saya harus mendapatkan pengalaman yang luar biasa. Ombak bermeter-meter tingginya, angin kencang tak terbendung, menghajar kapal  ferry dari pulau utama menuju pulau Nólsoy di seberangnya. Sayang sekali, saya tidak diperbolehkan keluar kabin untuk merekam ribuan liter air samudera Atlantik yang menggila itu. Padahal sudah terbayang betapa basah kuyup dan bahagianya saya jika langkah keluar kabin itu terlaksana.

forweb_f02

Oke,  saya akan cerita sedikit apa yang saya alami di sana. Ini mungkin kebiasaan saya, memasukkan beberapa destinasi sekaligus dalam satu perjalanan panjang. Untuk menuju Kepulauan Faroe, saya harus menyisipkannya secara cermat dalam agenda, terlebih hal-hal yang berurusan dengan birokrasi (ticketing, transportasi, prakiraan cuaca). Untuk mencapai destinasi yang masuk dalam kerajaan Denmark ini, bisa menggunakan pesawat terbang maupun kapal laut. Namun karena keterbatasan waktu, akhirnya saya memilih untuk terbang, walaupun mengetahui padahal menggunakan ferry akan lebih menyenangkan (tentu saja!). Terbang menggunakan Atlantic Airways selama 1 jam dari ibukota Islandia, Reykjavik, saya akhirnya mendarat mulus di sore hari di Vagar International Airport, kira-kira 50 km selatan Tórshavn, ibukota Kepulauan Faroe.

Dari bandara Vagar, bus melaju menuju Tórshavn. Melewati beberapa terowongan panjang menerobos kaki bukit, jalan raya mulus Faroe sebagian besar mengelilingi pulau. Kita bisa menyaksikan pesisir-pesisir yang tenang dengan komunitas-komunitas kecil di sekitarnya yang sederhana, yang dikelilingi padang rumput luas dan beberapa hewan ternak. Tidak ada overpopulasi manusia dan kendaraan. Yang ada hanyalah overexcitement pada lansekap Faroe yang kurang ajar indahnya ini! Hahaha!

Menurut cerita, tidak seperti tahun-tahun lampau, infrastruktur jalan raya di negara ini sudah mampu menghubungkan 80% wilayah berpenduduknya. Jadi, bukan masalah jika melancong ke sini hanya dalam sedikit waktu. Bagi yang pertama kali ke sini, tak sulit untuk mendapatkan transportasi. Bus dan taksi bisa jadi pilihan. Rupanya saat saya celingukan mencari moda transportasi, nasib baik hinggap padaku. Muncul bantuan dari seorang penumpang yang satu pesawat dengan saya tadi, yang menawarkan tumpangan di mobilnya menuju hostel yang belum saya booking, bahkan yang belum saya temukan di Tórshavn! Hahaha! Memang, bagian menarik adalah membiarkan diri tersesat dalam kenikmatan. Hehehe…

forweb3

Tórshavn, yang berarti pelabuhan Thor, terletak di pesisir selatan di semenanjung kecil pulau Streymoy, dengan dinding bukit Húsareyn di sisi utaranya. Merupakan salah satu ibukota terkecil di dunia dengan penduduk kurang lebih hanya 19.000 jiwa, Kota kecil ini menyajikan kehidupan modern namun sederhana. Sebagian besar penduduknya masih sebagai pelaut tangguh seperti leluhur Viking-nya. Walaupun demikian, industri pariwisatanya terbilang maju, ditandai banyaknya fasilitas untuk wisatawan, dan bagi saya pribadi, kelengkapan alam Faroe yang masih alami tidak membuat saya bersusah payah mencari spot bertualang.

Hal lain yang menarik dari Kepulauan Faroe, adalah ketidakpopulerannya di mata pelancong. Padahal, menurut jurnal National Geographic, destinasi kepulauan ini merupakan yang terbaik di antara 111 pilihan berdasarkan pengalaman kultural yang ditawarkan dan harmoni terhadap lingkungan.

Setiap kali hendak sampai di tempat tujuan, saya selalu deg-degan senang. Bukan isapan jempol, rupanya Kepulauan Faroe memang indah! Gugusan 18 pulau besar-kecil yang berdekatan, dengan tebing-tebing curamnya, hijau warna lereng-lerengnya, serta selimut kabut yang membelai mesra penghuninya, itu semua membuat saya bahagia. Belum lagi jalanan mungil dalam kota yang sangat nyaman untuk jalan kaki. Dalam kunjungan nyasar ini, tak banyak yang bisa saya lakukan di Faroe. Persiapan memang kurang, dan saya hanya berbekal pada brosur pariwisata seadanya yang saya bawa dari bandara Vagar sebagai panduan. Cuaca buruk yang sudah berlangsung semingguan, membuat saya lebih banyak menghabiskan waktu berjalan di kota Tórshavn, mengunjungi taman-taman kotanya yang rindang, berburu obyek foto di kota seperti kathedral di jalan Bryggjubakki dan benteng Skansin, dan hanya sekali melakukan aktivitas jogging lintas Tórshavn. Karena saya menginap di tengah kota, saya lalu mengeksplorasi seluruh kota dengan jalan kaki. Naik turunnya jalanan membuat lupa kepenatan saya. Rumah-rumah kecil dengan dinding warna warni beratapkan lumut basah telah menciptakan eforia berkepanjangan buat saya. Mungkin orang-orang sana heran melihat saya senyum-senyum sendiri di jalanan. Dasar ndeso! Alamak! Ini memang kepulauan kecil, tapi kok ya bikin saya deg-degan senang! Hehehe…

Ya! Terdengar udik memang! Tapi, karena saya tidak menemukan banyak hal gila di kampung saya di Indonesia, maka itulah yang terjadi. Saya hanya memiliki 3 hari, namun ini sesuatu yang luar biasa bagi saya. Mendengar dan membaca segala tentang keindahan kepulauan di antara Norwegia dan Islandia ini memotivasi saya untuk menjamahnya sendiri, walaupun pada awalnya saya tahu saat itu bukan waktu tepat untuk berkunjung, adalah akhir musim berkunjung dengan cuaca tidak bersahabat hampir sepanjang minggu. Walhasil, pemandangan alam yang ‘wah’ tidak bisa 100% saya saksikan. Saya curiga, cuaca buruk itu adalah dampak tornado Sandy di pesisir timur Amerika, yang bersamaan pada saat itu juga. Tetapi menurut penduduk Faroe, ombak ganas semacam itu hampir terjadi sepanjang tahun. Ah! Iya saya baru ingat, Atlantik memang terkenal dengan kebuasannya! Dan jika saya datang sekitar musim panas, bisa beruntung mendapatkan aurora borealis di langit utara.

forweb_f03

Perjalanan hari terakhir di sana adalah merasakan badai samudra Atlantik di tebing timur pulau Nólsoy. Pulau kecil yang kira-kira hanya seluas kira-kira 2.500 hektar ini berjarak 4 km arah timur dari Tórshavn. Setelah turun di pelabuhan kecil Nólsoy yang berpintu gerbang sepasang tulang iga paus, saya langsung tertarik berjalan ke arah dataran tertingginya di sisi timur, di sebuah bukit setinggi 371 meter bernama Høgoyggj. Melewati padang rumput dan beberapa rumah kayu mungil, hanya ada satu jalan utama menuju ke sana, dan hari itu tertutup bulir-bulir air laut yang menghajar tebing timurnya. Memaksa saya berjalan miring mengimbangi terpaan angin kencang, hempasan air yang terpecah tebing itu dengan cepat membuat saya basah kuyup! Yes! Akhirnya basah kuyup juga! Aha! Byurrrrr…

 

Tautan terkait:
http://en.wikipedia.org/wiki/Faroe_Islands/
http://www.flickriver.com/places/Faroe+Islands/
http://www.atlanticairways.fo/
http://www.airiceland.is/
http://www.smyril-line.com/

.

3 thoughts on “Basah Kuyup di Kepulauan Faroe

  • June 27, 2013 at 9:31 am
    Permalink

    ceritanta bikin ngirii gan :’| insya Allah sy juga ke sana nanti :’)

    Reply
  • April 29, 2017 at 1:54 am
    Permalink

    Ada itinerary nya ga ke sana? boleh di share?butuh visa apa ke sana?

    Reply
    • July 3, 2017 at 4:35 pm
      Permalink

      Ga ada itinerary khusus… Visa Schengen dengan Permit Khusus dari Kedutaan Denmark

      Reply

Leave a Reply