Trompet Dungchen

Bunyi trompet panjang itu memecah kesunyian pegunungan Himalaya….

Suatu sore di awal bulan November, sampailah kami di desa Tengboche dalam satu etape lawatan menuju kemah induk gunung Everest, di pegunungan Himalaya, Nepal. Perhatian kami tertuju pada satu bangunan biara yang cukup besar, yang kemudian kami tahu adalah biara Tengboche yang sangat terkenal. Angin dingin yang bertiup di ketinggian sekitar 3900 mdpl ini membuat kami ingin terus bergerak. Maka sambil menunggu para porter mempersiapkan tenda tempat kami bermalam dan memasak hidangan makan malam, kamipun tanpa berlama-lama segera menuju ke biara. Rupanya sore itu kami sangat beruntung karena dapat menyaksikan festival Mani Rimdu yang selalu ramai dikunjungi dan disaksikan oleh penduduk local maupun turis mancanegara.
Rupanya di dalam biara para penonton sudah berdesakan mencari dan memilih tempat guna menyaksikan festival ini. Sejenak saya memandang berkeliling, mengagumi arsitektur biara yang kuno dan megah, barisan para rahib, dan tentunya puncak-puncak bersalju abadi yang seolah mengelilingi biara ini. Tampak jajaran raksasa Himalaya: Nuptse, Everest, Lhotse menyembul seolah ingin menunjukkan kalau puncak-puncak mereka lebih tinggi melampaui awan.
Tiba-tiba terdengar suara seperti klakson kapal, yang diselingi kadang ditimpa bunyi seperti lengkingan nyanyian gajah. Rupanya bunyi-bunyian tersebut merupakan pertanda bahwa drama Mani Rimdu akan dimulai. Sejenak pandangan saya mencari asal bunyi tersebut.

ManiRimdu-1996 copy
Dungchen pada festival Mani Rimdu, Tengboche Nov. 1996

Rupanya bunyi-bunyian tersebut berasal dari trompet panjang yang disebut sebagai Dungchen. Ingatan saya ke komik Tintin di Tibet masa kanak-kanak dulu yang juga menggambarkan tentang trompet panjang ini. Trompet yang ditiup oleh para rahib Tibet yang mengenakan jubah merah dan bertopi tinggi di puncak gunung. Kebanyakan  para penduduk setempatpun tampak berkerumun di sekitar para rahib biara yang meniup trompet Dungchen. Drama Mani Rimdu pun dimulai, suatu bentuk drama gabungan antara tari, dialog, musik tradisional serta tari topeng dan juga pertunjukan kekebalan macam seni debus.

Kembali soal trompet panjang, kata Dungchen berarti trompet Sang Dharma atau trompet Kebaikan. Dungchen merupakan instrumen yang menjadi bagian dari ritual agama Budha di Tibet dan selalu digunakan pada upacara-upacara dan merupakan bagian dari pembukaan, saat prosesi, maupun sebagai panggilan bagi para rahib saat berdoa pagi dan sore.
Saya berkesempatan mendengarkan lagi bunyi alunan instrumen ini waktu mengunjungi biara Sakya, lepas desa Tingri, saat mengunjungi kemah induk Everest sisi Tibet.

dungchen-tibet2011 copy
Dungchen dalam upacara di biara Sakya, Tibet. November 2011.

Bagi teman-teman terutama para penggemar komik Tintin di Tibet yang penasaran ingin mengetahui seperti apa suara terompet panjang ini, berikut video rekaman saya saat merekamnya dalam suatu ritual tahunan di biara Sakya, Tibet pada bulan November 2011 silam.

One thought on “Trompet Dungchen

Leave a Reply