Pendakian Gunung Tambora Lintas Doropeti – Pancasila

Saya akhirnya memotong lengan kaos merah saya, dan tentu dengan resiko kena cakaran jancukan lebih banyak. Selepas dari Camp 3, hutan hujan tropis di ketinggian 2000 mdpl ini sudah semakin terasa panas. Jalan dengan beban ransel di punggung di bawah terik matahari membuat beberapa di antara kami berlima memutuskan untuk memakai kaos kutung saja, bukan lengan panjang pelindung dari terik ataupun dari duri-duri tanaman. Saat itu jam menunjukkan pukul 3 sore. Ketinggian semakin bertambah hingga kami mencapai posisi Camp 4 jalur Doropeti. Saatnya mencari mata air yang menurut pemandu kami Bang Jon ada di sekitaran Camp 4. Hanya dia dan Taufan yang telah sampai duluan di Camp 4 untuk memutuskan segera mencarinya dan mulai memasak makan siang kami yang agak terlambat itu.

Kemudian kami menemukannya di sebuah ceruk kecil di bawah Camp 4. Sebuah genangan air yang terus berair, tak lebih dari seukuran ember timba. Persediaan air kami bisa dipenuhi kembali, seraya memasak makan siang kami di sana. Ceruk kecil itu begitu teduh, cocok sekali untuk lokasi pendirian shelter. Tetapi kami tahu, kami harus lanjut hingga titik terdekat dengan puncak, sebelum malam tiba, pada hari kedua pendakian kami ke Gunung Tambora, Sumbawa, NTB sana.

Kaldera Tambora
Kaldera Tambora

Kami sudah memilih Gunung Tambora sebagai tujuan pendakian berikutnya. Cerita kesohor perihal Tambora telah lama mengusik rasa penasaran saya pribadi. Bekas letusan besar yang mempengaruhi iklim dunia di tahun 1815 itu selalu menghantui pikiran saya. Saya tak sabar ingin melihat sendiri sisa kengerian itu; sebuah kaldera raksasa dengan bentang diameter 4 km dan kedalaman 900 meter yang letusan sulfurnya menyebabkan Tahun Tanpa Musim Panas dan gagal panen di belahan bumi utara dan mengubur hidup-hidup 4 kerajaan di semenanjung Sanggar. Dan tentu juga cerita-cerita yang menyebut nama Napoleon Bonaparte.

HARI SATU

Awalnya kami tiba di dusun Doropeti pada hari sabtu. Perjalanan ini adalah menyambung dari perjalanan kami bertiga di pulau Sumba seminggu sebelumnya. Kami naik penyeberangan ferry selama 6 jam perjalanan. Setelah turun dari KMP Cakalang di dermaga Sape, Sumbawa, kami bertiga mendapat tumpangan menuju Bima dengan truk. Lumayan mengirit ongkos transportasi. Hari telah malam, dari Bima beruntung kami mendapat bis kecil menuju Dompu, kota terdekat dengan Gunung Tambora, di mana kami akan bertemu seorang pemandu gunung Tambora. Dan, hei… di atas bis, ya tepatnya di atas kap bis, kami bertiga menahan dingin dan angin selama 2 jam perjalanan ke Dompu! Duduk di atas sana dikenakan tarip lebih murah daripada duduk di dalam bis. Jelaslah kami mencari yang termurah, sekaligus yang mendebarkan. Asyik juga, pikir saya.

Inilah persinggahan kami bertiga pertama kali di Dompu, sebuah kota kecil di Sumbawa sebagai penghubung menuju gunung Tambora. Kami bertemu Bang Adun, seorang tinggi besar namun ramah yang akan menjadi pemandu kami nanti. Bermalam di tempatnya, kami akhirnya istirahat untuk memulai perjalanan esok hari.

Esoknya, kami harus menempuh 5 jam perjalanan menuju Doropeti dengan bus dan duduk di atasnya lagi. Setelah berbelanja logistik di pasar Dompu, kami segera ke terminal, tempat Bang Adun memesan bis untuk kami. Seharusnya pagi berangkat, tetapi ada penundaan hingga sore hari.

Saya benci memakai kata “beruntung”, tetapi jika tak ada delay, kami tak bisa menikmati matahari terbenam di padang rumput Tambora yang begitu indah itu. Jika kalian sempat ke sana nanti, kombinasi semburat merah-oranye di ufuk barat dan tebaran ratusan binatang-binatang ternak di sabana beserta latar belakang gunung Tambora dan laut teluk Saleh di semenanjung Sanggar itu tak akan mudah dilupakan. Hari itu kami akhiri dengan singgah di Doropeti dan menemui satu pemandu lagi, yaitu Bang Jon. Dijamu makanan desa plus cabe yang saya bawa dari Sumba, kami berlima sesudahnya merencanakan pendakian pada esok hari.

Sunset di Tambora
Sunset di Tambora

HARI DUA 

Pendakian dimulai dari titik 30 mdpl, tepat di depan rumah Bang Jon. Kami terus berjalan menuju timur laut ke arah gunung Tambora. Usut punya usut, uniknya pendakian di tanah Sumbawa adalah dimulainya dari titik terendah. Jadi, hingga titik 2850 mdpl nanti akan kita tempuh lebih panjang, yaitu sekitar 26 km. Ini pengalaman baru bagi saya, yang terbiasa dengan pendakian gunung-gunung terutama di Jawa yang titik mulainya sudah cukup tinggi. Walhasil, hari itu akan menjadi hari panjang bagi kami berlima.

Jalur Doropeti memiliki 4 camp atau pos. Begitu menurut Bang Adun dan Bang Jon pemandu kami. Jarak sepanjang itu yang hanya memiliki 4 camp terasa sangat menjemukan. Di titik jenuh, di akhir perjalanan hari pertama akhirnya kami putuskan untuk membuka shelter di bawah Camp 3 di ketinggian 2000 mdpl. Sementara saya mendirikan tenda di samping bivak merah, sebagian yang lain memasak. Bang Jon memperkenalkan Sup Asam khas Doropeti. Dia bilang itu adalah penawar lelah. Enak menurut lidah saya, dan yang lain akhirnya ikut mencicipinya. Aaahhh… segarrr…

HARI TIGA

Pada awal pendakian kemarin, jalur Doropeti ini terasa landai. Tetapi emosi makin diuji seiring dengan naiknya derajat kemiringan dan banyaknya tumbuhan gatal di atas 2000 mdpl. Selepas melewati Camp 3yang cukup jauh jaraknya dari Camp 2, vegetasi sekeliling mulai berubah dari ekosistem tumbuhan tinggi ke tumbuhan perdu. Saya tidak hafal jenis-jenis pohon, tetapi dominasi pinus sudah mulai terlihat di ketinggian 2300 mdpl. Seringkali langkah kami terhambat oleh banyaknya pohon tumbang yang melintang jalan. Saya sendiri malah kena potongan kayu yang menjorok tepat mengenai kepala saya. Darah sempat mengalir banyak membuat saya terduduk pusing, mengaduh sebentar lalu mungkin karena udara dingin, darah berhenti mengucur. Ini juga kali pertama bagi saya berdarah di kepala saat gunung.

Hingga ketinggian ini, pendakian kami sebagian besar melewati punggungan. Itu adalah satu hal yang penting dilakukan saat mencari jalur. Lembah boleh dilewati, tetapi sebaiknya ambil punggungan agar lokasi kita bisa tetap terpantau lebih baik. Sementara, tak lupa Fedi, salah seorang anggota tim kami,  memasukkan koordinat setiap camp dan titik-titik penting ke GPS-nya.

Pukul 3 sore kami mencapai Camp 4 di atas sebuah puncakan kecil. Rupanya bibir kaldera yang selama ini kita tunggu-tunggu belum juga kelihatan dari sini. Makan siang kita buat di mata air di bawah Camp 4, lalu setelah kenyang kami berjalan menuju titik pendirian shelter di bawah puncak. Jalur sudah landai dari Camp 4, kami tinggal menyusuri gigiran datar ke arah utara mendekat ke bibir kaldera. Hari itu kami akhiri dengan membuka shelter di sebuah ceruk yang terlindung dari angin, 400 meter di bawah puncak Tambora.

HARI EMPAT

Pagi itu, pukul 2 waktu Indonesia bagian Tengah, kami berkemas untuk ritual summit attack. Sedikit makanan ringan dan teh panas membekali tenaga kami berlima. Bulan purnama sudah terlihat di ufuk barat. Bayangan siluet puncak Tambora terlihat jelas di arah utara kami, menjulang menembus gelap di atas dinding-dinding jurang yang dalam.

Puncak Tambora
Puncak Tambora

Jalur Doropeti menuju puncak saya kira lebih landai daripada jalur dari desa Pancasila. Beberapa punggungan dan ceruk lebar kita lewati setelah dari shelter tadi. Sudah cukup dekat menuju puncak, sekitar 1,5 jam trekking naik. Begitu kira-kira ukur Bang Jon pemandu kami. Hingga sekitar pukul 5 tepat sebelum matahari terbit, kami akhirnya mencapai bibir kaldera Tambora yang sangat terkenal itu. Saya pribadi mungkin bukan seorang pemburu matahari terbit di ketinggian semacam ini, tetapi fenomena itu selalu membuat decak kagum saya. Kawah Tambora yang super lebar itu memberi lukisan indah dengan matahari terbit di belakangnya. Sementara dinding timur puncak terlihat berwarna keemasan tertimpa cahayanya duluan.

Selama 20 menit kami mengabadikan momen itu, di sebuah titik di bawah puncak Tambora, tepat di bibir kaldera sebelah barat. Dinding sebelah utara terlihat mirip ukiran alam Grand Canyon, Utah sana. Dinding sebelah selatan justru menghijau. Dan dasar kawah terlihat kepulan beberapa titik asap dari kemungkinan kepundan yang masih terbuka, sisa letusan dahsyat dalam skala 7 terakhir di April 1815.

Pukul 7 pagi kami akhirnya berdiri di puncak Tambora. Angin sangat kencang di puncak yang kira-kira hanya seluas setengah lapangan badminton itu. Sebuah tugu ada di sana menandakan titik kulminasi. Dari puncak, bisa terlihat garis pantai semenajung Sanggar, tempat Tambora berdiri. Sebelah barat laut ada pulau Satonda yang terkenal itu. Sebelah selatan ada bukit yang menuju jalur Doropeti. Dan tepat di bawah di horison timur terlihat kawah Tambora menganga lebar, hening di pagi ini, menyimpan kekuatan potensial yang sangat besar untuk dimuntahkan, mungkin dalam siklus beberapa ratus tahun lagi.

Di Puncak Tambora
Di Puncak Tambora

Tak lama kami berada di puncak Tambora, lalu segera kami turun menuju jalur desa Pancasila di sisi barat laut, untuk mengejar sore hari harus sampai bawah. Bang Adun memberitahu lama perjalanan, yaitu 12 jam turun atau sekitar 25 km menuju titik terendah dekat pantai, yaitu desa Pancasila. Itu merupakan waktu yang cukup lama untuk gunung yang tak cukup tinggi ini. Setelah sarapan, kami bergegas turun.

Jalur Pancasila terasa panjang sekali. Ada sekitar 5 camp utama, dengan jarak satu sama lain berjauhan. Karakteristik hutannya sama dengan jalur Doropeti. Sama-sama berpacet, sama-sama bertumbuhan gatal juga. Jelatang di mana-mana, bahkan ada lokasi khusus di antara pos 5 dan 3 di mana jalur pendakian menerobos semak jelatang dan tumbuhan gatal ini.  Menurut cerita, ini adalah salah satu ciri ekosistem di Tambora. Para pendaki bisa jadi punya cerita-cerita unik karena terkena belaian mesra tumbuhan-tumbuhan ini. Termasuk kami tentunya. Mengenai efeknya jika terkena langsung ke kulit, silakan coba sendiri sensasinya. Hahaha!

Dengan disertai kelelahan, akhirnya kami mencapai desa Pancasila. Kaki terasa lembab dan letih. Tapi kami senang karena kami kembali menemui warung-warung, mencari minuman segar dan makanan normal. Pertemuan dengan beberapa pendaki yang naik di jalur Pancasila sehari tadi cukup membuat kami lupa akan panjangnya jalur itu. Dan hari itu diakhiri dengan menginap semalam di base camp Tambora Trekking Centre di desa Pancasila. Bang Adun pemandu kami rupanya seorang pemandu yang terkenal di sana. Dia dengan mudah memesankan ruangan bagi kami berlima untuk istirahat malam itu, sekaligus transportasi bus untuk menuju Dompu lagi besok pagi.

HARI LIMA

Pagi-pagi sekali, kami sudah berkemas. Bus jemputan akan datang menjemput kami pukul 7 pagi, untuk kembali melakukan 5 jam perjalanan di atas bus lagi menuju Dompu, melewati sabana luas Tambora dan tebaran binatang-binatang ternak yang diliarkan itu. Kami akan melewati desa Doropeti lagi, mengantar pulang Bang Jon pemandu kami, menemui kembali keluarganya yang sederhana di sana.

Badan kami menghitam dengan luka-luka di sekujur lengan, bekas menerobos hutan Tambora. Perut yang masih selalu lapar ini sesekali diberi asupan makanan ala daerah setempat. Salah satunya dari sebuahshelter di tengah perjalanan itu, yang menghidangkan ayam goreng yang luar biasa enak. Rasanya gurihnya di lidah masih terasa hingga sekarang. Hari itu kami kembali ke peradaban. Dengan perjalanan yang sesuai jadwal, kami meneruskan perjalanan meninggalkan pulau Sumbawa menuju Lombok, untuk sekedar berkunjung menjadi seorang turis, bukan sebagai pendaki. Hehehe…

Catatan perjalanan ini saya buat karena memenuhi titipan para pemandu kami Bang Adun dan Bang Jon akan jalur Doropeti. Jalur ini sudah lama tak dilalui, dan mereka minta kami untuk memperkenalkan lagi jalur lama ini, sebagai alternatif jalur pendakian gunung Tambora di samping 4 jalur lainnya dengan karakteristiknya masing-masing. Dan menurut saya pribadi, ini adalah jalur keren! Melewati perkebunan jambu mete, kalian tak akan hanya disuguhi hutan, tetapi juga binatang-binatang ternak khas pemandangan Sumbawa. Jalur yang cukup lebar dan lebih sedikit pacet, adalah pertimbangan bagi para pendaki untuk melaluinya. Kalau mau coba bawa sepeda, ya silakan. Yang pasti, dengan ditemani porter dan pemandu, pendakian akan jauh lebih mudah.

Menurut Bang Adun pemandu kami, kata “Tambora” berarti gunung yang hilang. Saya tidak tahu mengapa, mungkin karena sebagian besar bagian gunung yang hilang karena letusan 1815, atau memang karena gunung ini selalu diselimuti awan. Yang jelas, Tambora telah menghilangkan nyawa 71.000 jiwa karena letusannya. Mantan gunung tertinggi di nusantara ini (sebelum tahun 1815 mencapai ketinggian 4.300 mdpl) seakan menyimpan misteri dan magnet bagi para pengunjungnya. Penelitian geologi dan biologi sering dilakukan di sana. Tapi yang pasti, saya harus bisa ke sana lagi, untuk mengunjungi dasar kawahnya, dan berdiri di ground zero pusat bencana besar.

Resume waktu tempuh (naik lewat Doropeti, turun lewat Pancasila):

  • Pelabuhan Sape – Bima    1.5 jam (truk)
  • Bima – Dompu                2 jam (bus)
  • Dompu – Doropeti           6 jam (bus)
  • Doropeti – Camp I           4 jam
  • Camp I – Camp II            4 jam
  • Camp II – Camp III          5 jam
  • Camp III – Camp IV         3 jam
  • Camp IV – Puncak           2.5 jam
  • Puncak – Camp V            1.5 jam
  • Camp V – Camp IV          1.5 jam
  • Camp IV – Camp III         2.5 jam
  • Camp III – Camp II          4 jam
  • Camp II – Camp I            2.5 jam
  • Camp I – Pintu Rimba       2 jam
  • Pintu Rimba – Pancasila    2.5 jam
  • Pancasila – Dompu           8 jam (bus)

 

 

 

Leave a Reply