Mencintai Bumi Dengan Hati

Hari Sabtu lalu tanggal 23 Maret 2013, pada malam hari jam 08.30 – 09.30, segelintir penduduk Bumi mematikan lampu di rumah bersama keluarga atau di lapangan bersama warga kota lain. Ya, walaupun tidak bersamaan, selama satu jam mereka mematikan lampu untuk merayakan Earth Hour, satu jam untuk Bumi. Ini adalah momen yang mengingatkan kita semua untuk selalu mencintai Bumi tempat manusia tinggal. Tidak signifikan memang, tahun lalu saja event ini hanya menghemat pemakaian listrik sebesar 800 juta. Lagi pula listrik tidak bisa disimpan oleh PLN, digunakan ataukah tidak tak ada bedanya. Di Jakarta sendiri perayaan Earth Hour dilaksanakan di Taman Proklamasi yang dihadiri juga oleh Gubernur DKI Jakarta Pak Jokowi. Saya sendiri saat itu berada di Bundaran Hotel Indonesia dan mencoba mengabadikan momen ini, sayangnya hanya sedikit lampu yang dimatikan, jadi tidak terlalu terasa.

Earth Hour Bundaran HI
Earth Hour Bundaran HI

Mematikan lampu ini adalah suatu pernyataan kesadaran, listrik yang kita gunakan sehari-hari sebagian besar masih berasal dari energi fosil yang tidak terbarukan. Polusi yang diakibatkan penggunaan energi fosil telah meracuni Bumi ini. Sangat mungkin menyebabkan Global Warming yang mulai kita rasakan efeknya sekarang.  Selama berpetualang, saya menyaksikan salju abadi di puncak-puncak gunung es Himalaya yang semakin berkurang dan gletser es Svalbard di lingkaran Arktika yang terus mencair. Menyaksikan hal ini tentunya amat menyedihkan. Apakah satu jam cukup mengurangi efek Global Warming? Tentu tidak, tapi cukup untuk  memunculkan kesadaran di dalam hati.

Logo Earth Hour dengan latar langit malam di Machermo Nepal
Logo Earth Hour dengan latar langit malam di Machermo Nepal

Mencintai berarti berkorban dan memberi. Beberapa tahun belakangan ini saya mencoba untuk terus menggunakan transportasi umum. Menggunakan kendaraan bermotor pribadi hanya untuk urusan tertentu saja. Saya juga bersepeda di akhir pekan untuk transportasi, sekaligus sebagai bagian cross training untuk latihan pendakian Mt Ama Dablam Oktober nanti.

Selain itu, beberapa bulan belakangan ini saya sedang mengerjakan sebuah proyek yang menarik. Memasang instalasi listrik tenaga surya di rumah. Ternyata saat ini teknologi ini tidak lagi mahal dan cukup terjangkau.  Hanya dengan investasi senilai iPhone 5 saja, saya bisa menyalakan semua lampu di rumah dengan tenaga surya. Bahkan bisa juga bisa menyalakan sebagian perangkat seperti notebook dan TV.  Cita-citanya tahun depan semua perangkat rumah tangga akan 100% menggunakan energi yang terbarukan. Kebetulan beberapa minggu lalu, tim redaksi Majalah Voice Plus sempat mampir ke rumah untuk meliput. Rencananya liputan ini akan ditayangkan pada edisi April 2013. Majalah Voice Plus bisa didapat di news stand milik jaringan 7-Eleven dan Circle K.

Instalasi Panel Surya dan Tim Voice Plus
Instalasi Panel Surya dan Tim Voice Plus

Apa yang sudah anda lakukan untuk Bumi? Banyak hal yang bisa kita lakukan untuk Bumi ini. Menanam pohon, mematikan lampu yang tidak digunakan, tidak membuang sampah sembarangan, bertani secara organik, menggunakan kendaraan umum untuk transportasi sehari-hari, dan banyak lagi. Ayo terus berubah dan membantu bumi ini agar lebih menjadi layak dihuni oleh anak dan cucu kita!

Kemarin saya menemukan sesuatu yang menarik di timeline Facebook saya. Seorang teman mengunggah foto tentang Bio Bemo, sebuah proyek mentransformasi Bemo menggunakan mesin bertenaga listrik. Bemo adalah produk Daihatsu yang legendaris yang aslinya bernama Daihatsu Midget. Kendaraan yang memiliki bentuk unik ini pernah menjadi primadona transportasi umum di kota besar. Di beberapa tempat di Jakarta, seperti di Bendungan Hilir, kita masih bisa melihat kendaraan ini digunakan. Senang rasanya melihat munculnya inisiatif seperti ini.

Tips: Earth Hour adalah kegiatan tahunan yang diprakarsai WWF. Kalian bisa mengikuti kegiatan ini bersama keluarga dan rekan-rekan di berbagai tempat di kota kamu masing-masing. Sebarkan kesadaran ini di social media dengan tagar #earthhour. Jangan lupa follow akun @EHIndonesia. Tulisan dan Foto oleh Fedi Fianto

Fedi Fianto

Selain melakukan kegiatan mendaki gunung, ia juga menekuni kegiatan fotografi dan videografi. Ia selalu berusaha untuk “doing extra miles” di setiap tantangan yang dipilihnya, dan itu dibuktikannya dengan mengikuti kompetisi Triathlon dan Marathon. Selain itu ia pun menekuni Olahraga Selam dan mengabadikan keajaiban bawah laut di pulau-pulau cantik Indonesia di antaranya Bali, Ambon, Wakatobi, Alor, dan Lembeh.

2 thoughts on “Mencintai Bumi Dengan Hati

  • March 25, 2013 at 11:29 am
    Permalink

    Banyak yg nyinyir ama EH, katanya kontribusinya ga seberapa dan malah borosin resources. Ada yg bilang juga kl itu kerjaan kapitalis spt amerika dlm rangka carbon trade.
    Menurut kakak bagaimana?

    PS.
    Lucu kl liat masih adaaa aja yg mengkaitkan EH dg kinerja PLN.

    *komen dr individu pecinta lingkungan yg netral dg campain EH*

    Reply
    • March 25, 2013 at 11:49 am
      Permalink

      Saya si liatnya EH itu bentuk perayaan aja. Pekerjaannya sebenarnya sepanjang tahun. Yang penting sebenarnya kesadaran untuk berubah. Yang lebih penting lagi insiatif baru seperti si Bio Bemo di atas. Mereka berusaha menyelesaikan masalah lingkungan. Kesempatan untuk meng-highlight inisiatif seperti itu, salah satunya pada saat perayaan EH atau Hari Bumi bulan depan nanti. Supaya masyarakat bisa mengenal dan terinspirasi.

      Reply

Leave a Reply