Akhir Pekan Dengan Keramahan Madura

Madura adalah ladang-ladang garam, pria-pria berkulit gelap yang mengenakan sarung, perempuan berhijab, batik warna menyala, dan kuliner aneka rasa. Jika orang kerap mengkonotasikan Madura dengan karakter manusia yang keras, Madura dari pengalaman dalam perjalanan ini adalah senyuman ramah dan bantuan yang tulus serta perilaku santun nan religius.

Butuh kurang dari empat jam berkendara dari Ujung Tol Suramadu hingga tiba diujung Timur, Pelabuhan Kalianget, Sumenep. Melintas jalan-jalan mulus, melintas bibir pantai , hutan bakau dan perkampungan nelayan.  Kendaraan bisa dipacu cepat di banyak tempat, namun saat memasuki wilayah perkampungan para pelintas jalan akan berbagi ruang dengan dokar dan becak..

Antrean kendaraan hanya terjadi jika bertemu dengan pasar yang tengah jatuh hari pasarannya.  Ada banyak pasar tradisional di Madura yang memiliki sistim hari pasaran. Saat hari pasaran tiba  sebagian besar warga akan tumpah di keramaian tersebut, baik untuk kegiatan ekonomi ataupun sekedar melihat-lihat.

Perhentian pertama kami di Madura adalah warung Bebek Sinjay di Desa Junok, Bangkalan. Warung ini besar sekali, sepertinya muat untuk 500 orang makan sekaligus,  bentuknya seperti ruang makan di barak militer. Pengunjung yang ingin mencicipi Bebek Sinjay harus berbaris dan antri untuk bisa menikmati nasi bebek goreng serundeng, sambel mangga dan sejumput lalapan. Di ujung antrian, kasir hanya akan bertanya berapa porsi , memberikan harga, setelah pembayaran selesai, ia akan segera beralih ke pembeli berikutnya. Jangan berharap bisa memilih dada, paha atau bagian bebek lainnya, untung-untungan, sedapatnya.

Rehat kami siang itu adalah di deretan bakau Pantai Camplong, Sampang untuk menikmati legit buah sarkoyo (Srikaya) . Kami membayar Rp 6000,- untuk satu wadah plastik kecil yang dijajakan di sana. Manis buah srikoyo seperti mengobati panas terik siang hari itu.

Kami lanjut berkendara hingga tiba di Sumenep. Tiba di Sumenep siang itu, kami langsung berkunjung ke Museum dan Keraton Sumenep.  Di dalam komplek keraton yang dikenal dengan sebutan Keraton Panembahan Sumolo ini ada satu bangunan yang  menjadi perhatian pengunjung, Gerbang Labang Mesem, yang artinya gerbang pintu mesem. Konon kabarnya ruang terbuka yang ada di atas pintu gerbang ini adalah tempat raja mengawasi puteri-puteri dan para istrinya mandi di pemandian Taman Sare. Adegan mesam mesem sang Raja terjadi saat mengawasi puteri dan istrinya, itulah kenapa dinamakan Labang Mesem. Lokasi Keraton ini ada di tengah kota, tepatnya di Jalan Dokter Sutomo.

Makan siang menjelang sore kami hari itu, adalah Soto Kikil Sumenep di Warung Adnan. Warung yang letaknya tidak jauh dengan komplek Keraton Sumenep ini sudah berdiri sejak 1962, letaknya lumayan tersebunyi di gang sempit di Jalan Dr. Wahidin 5, Pajagalan, Sumenep. Kekuatan soto kikil ini ada di kuahnya yang pekat. Perpaduan kaldu kikil dan kuah campuran kacang hijau dan rempah menghadirkan kelezatan eksotik khas Madura di mulut kita, apalagi menyeruput kuahnya yang panas, saat hujan baru saja selesai di sana.

Sore di Kalianget kami berharap bisa menyaksikan  tarian senja di ujung Timur pulau. Sayangnya mendung terus menggantung sepanjang sore. Berdiri di tepian dermaga kami menyaksikan kapal-kapal yang menyeberangkan penduduk setempat  dan rombongan peziarah menuju Pulau Talango.  Riak ombak, air laut yang jernih, mengguncang perahu-perahu yang  tengah berlabuh. Sesekali beberapa nelayan perahu kecil dengan ramah menawarkan kami untuk berputar-putar mengelilingi pelabuhan.  Sepanjang jalan menuju Kalianget, terlihat jejak-jejak industri garam, termasuk bangunan-bangunan tua pabrik, kompleks gudang dan perumahan PT Garam. Ladang-ladang garam memang tidak dapat beroperasi di musim hujan, sehingga kami tidak dapat menyaksikan kesibukannya.

Sebelum gelap kami memutuskan untuk kembali ke Pamekasan, tujuannya jelas, satu porsi “Sate Lalat” di jalan Niaga, tidak jauh dari Alun-alun kota Pamekasan. Disebut  Sate Lalat karena ukuran daging satenya yang kecil-kecil seukuran lalat. Satu porsi sate lalat berisikan 25 tusuk sate, bisa daging kambing, atau daging ayam yang dimakan dengan lontong.

Minggu pagi-pagi sekali, saya sudah siap dengan running jersey untuk melanjutkan jelajah Pamekasan sambil lari pagi. Seperti biasa walaupun di luar kota saya juga tidak ingin melewatkan latihan rutin saya. Tujuan kami pagi  itu adalah Pusat Batik Tradisional di Pasar Tujuh Belas Agustus, pasar ini hanya buka pada hari Kamis dan Minggu, dan biasanya hanya hingga jam 10 pagi. Blusukan di pasar tradisional dan olah raga pagi di tempat yang baru dikunjungi adalah sebuah kombinasi aktivitas yang menyenangkan. Bonusnya adalah kuliner tradisional yang populer di sana.

IMG_3933

Pagi itu, dengan badan yang masih berkeringat , berdua dengan partner saya, kami  menyelinap ke bagian belakang pasar demi sepiring nasi gule dan sate kambing.  Beberapa pengunjung pasar menyarankan kami untuk singgah di kedai nasi golle ibu Zainulloh. Porsinya cukup untuk mengganti energi yang terbakar saat lari pagi tadi. Perpaduan bumbu dan rasanya cukup untuk membuat saya sarapan pagi lebih awal.

Dan perburuan batik dimulai.  Kami bergerak dari satu los ke los lain, memilih lembar-lembar kain yang membuat kami takjub dengan paduan motif dan olahan warna yang menyala. Batik-batik cantik itu tidak dijajakan di etalase yang mewah, tapi cukup di-display pada seutas tambang yang diikat di antara tiang-tiang  penyangga bangunan. Sebagian yang lain dibiarkan bertumpuk di atas tikar dan mengemper di gang-gang pasar.  Para penjualnya perempuan-perempuan  berhijab dan pria-pria bersarung yang dengan sabar dan santun melayani para pembeli. Harga yang ditawarkanpun tidak mahal, rentang harga batik di pasar ini mulai dari Rp 40 rb hingga Rp 2 jt rupiah bergantung pada tingkat kesulitan pengerjaannya. Ada banyak kejutan di pasar batik ini, sepotong kain batik cantik bisa saja ditemukan di tumpukan paling bawah yang dijajakan di emperan di sudut pasar.  Sampai tidak terasa kami sudah berputar beberapa kali mengelilingi los batik itu.

IMG_3936

Setelah tujuh potong batik berpindah ke dalam tas,  bonus kedua saya hari itu adalah jamu sehat ramuan Madura. Paska lari pagi dan menjelajah pasar, satu gelas jamu kumplit ramuan Madura lebih dari cukup untuk membuat saya tetap bugar seharian itu. Pesan dari ibu Penjual Jamu adalah kalau rajin olahraga harus juga rajin minum jamu.

Wow berikutnya yang kami temukan di sana adalah Nasi Kaldu Sumsum Super di Depot Al-Ghozali, di Jalan Diponegoro 34-A, Sampang dalam perjalanan pulang kami menuju Surabaya. Potongan dengkul sapi yang begitu menggoda hadir 15 menitan setelah pemesanan. Rasa kaldunya benar-benar super, gumpalan daging yang empuk dan aromanya yang segar. Bisa diduga kami melahap santapan siang ini dengan brutal, walau lalu merasa sangat bersalah ketika mengingat kandungan kolesterolnya.

Sore sebelum melintas kembali Jembatan Suramadu, kami menyempatkan diri untuk mencicipi Rujak Cingur Ibu Ponok di Jalan Letjen Sunarto Bangkalan. Sepiring rujak yang sempurna untuk menutup perjalanan akhir pekan di Pulau Madura.

 

 

Leave a Reply