Melintas Laut Pasir Bromo

Waktu saya mendapat ajakan untuk berlari melintas laut pasir Bromo – danau Ranu kumbolo, saya sempat berpikir ulang sebelum menerima ajakan tersebut, sebuah ajakan yang menggoda, mengingat selama ini dalam menggeluti aktifitas di alam terbuka saya lebih suka menikmati rentang perjalanan dengan santai dan tidak terburu-buru,membawa semua perlengkapan sendiri, dan berlama-lama ngecamp sambil menikmati kopi di teras tenda. Bisa saja saya berhenti untuk menyesap segelas kopi di sebuah tempat yang menurut saya indah, atau berhenti di tempat datar sambil ngobrol ngalor ngidul saat harus menghadapi medan yang berat.

IMG_1335-600

Jadi membayangkan harus menikmati rentang perjalanan itu dalam dimensi kecepatan sama sekali tidak terpikirkan sebelumnya.

Dan akhirnya saya benar-benar tergoda dengan ajakan tersebut dengan pertimbangan sudah beberapa kali mendaki gunung ini dan menarik untuk mendakinya dengan cara lain. Sialnya para penggoda itu adalah para pelari-pelari trail  tangguh yang sudah banyak makan asam garam turun naik perbukitan. Jadi sejak awal sebisa mungkin saya berlari secara efisien. Strategi saya adalah tidak berada di depan bersama pelari cepat, dan tidak juga di belakang bersama pelari yang bertugas menyapu pelari yang tertinggal. Berada di tengah-tengah, saya merasa bisa mengatur langkah dan nafas saya meski kadang ngantuk nggak ada teman ngobrol hahaha.

IMG_9788

Dari pintu gerbang Bromo tanpa terasa sudah 9 kilometer laut pasir terlewati. Pada awalnya saya kira rutenya akan melewati pertigaan njemplang. Ternyata belok ke dinding menjulang dengan jalur zigzag di seberang Bromo. Jalur yang sudah tertutup rumput membuat kami menerabas potong arah kanan menuju jalur yang terlihat di dinding sebelah.

Pada akhirnya kami tiba di puncak dinding yang dilewati jalan raya. Semenit dua menit 30 menit rehat ternyata ada satu orang yang belum muncul. Terpaksa jalur disisir kembali untuk mencari salah seorang teman kami tersebut.

Di Ranupane, kami beristirahat sambil menyantap buah segar sambil melemaskan otot-otot yang sudah bekerja keras sejak pagi.

Acara lari-larian dilanjutkan ke rute pendakian Gunung Semeru menuju danau Ranu Kumbolo. Pemandangan kanan kiri yang  sudah tertutup semak dan ilalang membuat acara lari semakin fokus dan syahdu.

Singkat kata kami tiba Ranu Kumbolo yang terkenal itu. Semua  perlengkapan dan logistik dibawa porter, jadi aneh rasanya. Dari yang biasanya datang, bongkar keril, pasang tenda, dan mengolah logistik sendiri, kali ini semua tenda sudah terpasang berikut kursi bengongnya yang  tinggal diduduki. Sudah ada yang masak dan tinggal makan. Istilahnya survival pakai sendok.

Jadilah siang itu saya lalui dengan satu pertanyaan dan satu komentar, “ngapain setelah ini , oh begini ya rasanya dilayani “. Secara pribadi saya lebih menikmati melakukan semuanya sendiri.

Batas lari kami memang Ranu Kumbolo, tetapi padang Oro-Oro Ombo begitu menggoda. Hari berikutnya kami  mencicipi berlarian di padang spektakuler itu. Sayangnya kami tidak punya waktu banyak untuk berlari lebih jauh hari itu. Di ujung Oro-Oro Ombo tim memutuskan untuk balik arah dan pulang  untuk mengejar pesawat ke Jakarta.

Sepertinya kali ini saya sudah bisa menikmati perjalanan dengan dimensi kecepatan itu.

 

 

 

Leave a Reply