Berhujan-hujan di Gunung Manglayang

Hutan cemara dan kabut Manglayang

Latihan bersama adalah saat yang selalu ditunggu oleh seluruh anggota tim Gapai Tinggi Ama Dablam 2013. Momen tersebut biasanya digunakan untuk saling bertukar pikiran mengenai progress latihan masing-masing, tips-tips latihan, dan ajang dimana kami bisa tertawa bersama walau tubuh bermandi peluh.

Setelah tertunda selama dua pekan, akhirnya Sabtu kemarin, pagi-pagi sekali tim sudah meninggalkan Jakarta menuju kawasan Cileunyi, Sumedang, Jawa Barat. Tiga ransel besar yang berisi tabung aqua gallon juga sudah siap di bagasi mobil. Hari itu dijadwalkan kami akan berlatih mendaki cepat dengan beban air satu gallon aqua di punggung kami masing-masing.

Jalur menuju pintu pendakian Gunung Manglayang di Bumi Perkemahan Batu Kuda akan melewati jalan desa dan beberapa tanjakan tajam yang hanya bisa dilewati oleh satu mobil. Di mulai dari jalan raya Cibiru, lereng gunung Manglayang dipenuhi rumah-rumah penduduk juga beberapa perumahan mewah.  Setelah dua pertiga perjalananan barulah nampak kebun dan ladang sayur , kandang-kandang sapi yang diapit rumah penduduk dan punggung gunung di kejauhan.

Langit sudah tak lagi cerah saat kami tiba di pintu gerbang Bumi Perkemahan Batu Kuda. Harga yang dipatok untuk masuk kawasan ini adalah tiga ribu rupiah per-kepala, tidak termasuk harga untuk parkir kendaraan di sana Dan kami disambut deretan  cemara cantik, bau rerumputan dan tanah basah sisa hujan.  Deretan cemara yang selalu membuat saya terpesona.

Dan kami segera berlomba dengan mendung yang mulai menggayut di langit, berharap hujan tidak tumpah sebelum kami jauh melewati lereng cemara ini. Menurut ramalan cuaca, hujan lebat akan melanda kawasan Sumedang dan sekitarnya menjelang siang hingga sore.

Siang itu kami sadar-sesadarnya bahwa kami akan mengalami beberapa jam yang menantang. Membawa segalon aqua yang beratnya kurang lebih 19 kilogram,  di jalur menanjak,   selepas hujan pula, pastinya  bukan pekerjaan yang mudah. Saya dapat memastikan segala macam bentuk kegalauan pasti akan keluar sepanjang pendakian nanti.

Serunya,  saat bahu, punggung, betis dan dengkul semuanya sudah menjerit minta berhenti, salah seorang dari kami biasanya akan saling memberikan semangat satu sama lain. Bahkan saat salah seorang dari kami terjungkal karena jalur yang begitu licin, itu juga bisa membuat kami tertawa hingga kami sejenak bisa melupakan derita di bahu dan punggung kami.

Menjelang tengah hari kami diguyur hujan deras. Air yang jatuh dari langit seperti berlomba dengan peluh yang keluar dari tubuh kami. Hujan yang terus turun mulai memperlambat pergerakan, beberapa kali juga kami juga terjungkal keras saat meniti tanah dan cadas yang basah. Saat kaki dan paru-paru sudah memberikan isyarat untuk berhenti, saya selalu memberikan perintah ayo 10 langkah lagi baru berhenti, pada hitungan ke delapan biasanya saya akan memulai perhitungan dari satu kembali, begitulah terus berulang hingga tiba di atas, aim higher itu yang ada di kepala saya.

Setelah membuang segalon air di puncak , kami berjalan turun laksana terbang, saya bisa merasakan betapa leganya seluruh otot-otot tubuh yang sudah bekerja keras sesiangan tadi. Menjelang senja di Buper Batu Kuda, segelas teh panas dan semangkuk indomie menemani rehat kami sore itu. Dan tiba saatnya untuk kembali ke Jakarta.

IMG_7418

Gunung Manglayang terletak di antara Kabupaten  Sumedang dan Bandung, Jawa Barat, Indonesia. Ketinggiannya sekitar 1818 mdpl. Pemandangannya cukup indah, namun karena relatif tidak begitu tinggi, sehingga kurang dikenal oleh pendaki-pendaki gunung pada umumnya.Dari Jakarta untuk menuju pintu pendakian Gunung Manglayang cukup mudah, jika membawa mobil sendiri keluar di pintu tol Cileunyi, pertigaan belok kiri ambil arah Cibiru kemudian belok kanan tepat sebelum jalan yang dipecah satu jalur. Jika naik kendaraan umum, naik bus jurusan Garut atau Tasikmalaya, turun di Cileunyi, sambung dengan angkot jurusan Cibiru, turun sebelum jalan yang dipecah menjadi satu jalur dan sambung dengan ojek menuju Buper Batu Kuda.  

Photos by Ratna Juwita 

Leave a Reply