Gapai Tinggi Peduli Banjir

Sejatinya Sabtu pekan lalu, Tim Gapai Tinggi Ama Dablam 2013, akan menelusur hamparan hutan cemara di kawasan Gunung Manglayang, Bandung, untuk berlatih mendaki cepat dengan beban. Namun intensitas hujan yang terus meningkat dan banjir yang melanda sebagian wilayah Jakarta sejak hari Kamis membuat kami berpikir ulang untuk meninggalkan kota tercinta dalam kondisi seperti itu. Diputuskan tim Gapai Tinggi untuk berkolaborasi dengan Komunitas Merah Putih (http://www.komunitasmerahputih.org/) untuk melakukan tanggap darurat banjir.

Sabtu pukul 7 pagi, satu persatu volunteer yang ingin terlibat dalam aksi ini sudah mulai berdatangan di base camp kami di Tebet Barat Dalam. Berserak di ruang tengah rumah, air mineral, pempers, susu bayi, biskuit bayi, biskuit kaya kalori untuk anak, susu kemasan, tissue dan plastik untuk mengemas semua perlengkapan dan bahan makanan tersebut. Dua termos ukuran jumbo berisi makanan hangat siap makan juga tengah meluncur menuju basecamp.

IMG_3108

Menjelang siang,  4 mobil tim volunteer sudah melakukan konvoi di jalan Panjang menuju Kedoya Utara . Walaupun seluruh anggota tim yang berangkat sudah siap untuk basah-basahan, tetap saja mendung yang terus menggantung siang itu sempat membuat sebagian tim was-was.

Di kawasan Kedoya Utara, kami menyusur gang sempit  yang tergenang air hingga selutut. Bau bekas banjir yang menyengat dan bangkai tikus yang terapung di jalan sempat mengagetkan beberapa volunteer. Penghentian awal kami siang itu adalah di posko pengungsian banjir Masjid Al-Ikhlas Kedoya Utara. Dua termos jumbo bubur hangat yang kami bawa tandas dalam sekejap.

IMG_6462

Sore hari  kami memasuki labirin kawasan padat  di daerah Kota Bambu Utara, menelusur gang-gang kecil yang masih tergenang air mulai dari selutut hingga sedada orang dewasa. Para volunteer menerobos air berwarna coklat keruh yang bercampur segala macam kotoran, bangkai hewan  dan benda-benda lain yang hanyut oleh banjir. Para penyintas banjir terlihat terus bertahan di lantai dua di rumah-rumah  mereka, yang berhimpitan dan berdesakan dalam lilitan kemiskinan. Serbuan air sejak hari kamis lalu tidaklah cukup menjadi alasan bagi mereka untuk pergi mengungsi ke tempat yang lebih aman.

Kami harus menjunjung tinggi paket bantuan yang kami bawa supaya tidak ikutan terendam air. Layaknya pedagang keliling sore itu kami berteriak,  “ Yang punya bayi, yang punya balita,”  dari satu rumah ke rumah yang lain. Beberapa ibu-ibu bergegas merespon dan mengejar keberadaan tim kami. Paket-paket berisi perlengkapan bayi dan balita itu segera berpindah tangan ke mereka.

Hari kedua, tim bergerak jauh hingga tiba di Kelurahan Penjaringan Jakarta Utara. Tim menggunakan dua gerobak untuk mengangkut besar untuk mengangkut bantuan bagi para korban banjir. Seluruh logistik yang ada kami bungkus ulang dengan plastik trash bag ukuran besar supaya aman dari jangkauan air.

IMG_6520

Tantangan terbesar tim hari itu adalah bukan hanya harus menembus genangan air yang sudah menyentuh pinggang hingga sedada orang dewasa, tapi juga bagaimana harus mengatur antrian pengungsi saat mendistribusikan bantuan yang kami bawa. Bagaimana kami harus tetap tabah mendengar mereka yang saling mengumpat demi satu paket plastik bantuan yang kami berikan, atau mereka yang saling sikut dan menyerobot antrian untuk semangkuk bubur kacang hijau yang jumlahnya terbatas.

Derita mereka sepertinya akan terus berlanjut hingga beberapa hari ke depan.  Setelah beberapa hari terendam air, penyakit paska banjir sepertinya akan dengan mudah menyerang mereka. Boleh saja menyalahkan pada intensitas hujan yang meningkat, namun hal-hal seperti ini mestinya tetap bisa diantisipasi dengan teknologi dan perencanan pengendalian banjir terintegrasi.

 

Leave a Reply