Menapak Tanah Terjal Gn Kinabalu

IMG_2522

 

Pagi pada pertengahan Oktober lalu adalah sebuah kegilaan. Tujuh ratusan orang para penggila olahraga lari dari manca negara, hadir di depan Taman Nasional Gunung Kinabalu yang berselimut kabut, gerimis dan dingin yang lumayan menggigit. Dalam hitungan menit seluruh pelari ini,  baik yang amatir maupun yang pro akan berlari melintas lereng terjal Gunung Kinabalu sejauh 23 km dalam ajang Mt Kinabalu International Climbathon 2012

“Dari Indon kah ? “ Saya berusaha menjawab pertanyaan seorang pelari Malaysia tersebut dengan nada penuh optimisme, “Yup Indonesia “. Pastinya ia membaca tulisan Indorunners di running jersey yang saya kenakan.  Lantas ia meluruskan pertanyaannya “Iya Indonesia, selamat datang.”

Pagi itu, walaupun sudah harus berkumpul di kantor Taman Nasional sejak subuh, saya melihat ada semangat, gairah dan kegembiraan di wajah-wajah para pelari yang hadir di sana. Latihan panjang mereka selama berbulan-bulan akan segera terbayar pada lintasan terjal ini.

Ada antrian panjang pelari di depan toilet, dingin yang lumayan menggigit pastinya mendorong orang untuk pergi ke toilet berkali-kali, hebatnya tidak ada yang melakukannya di sembarang tempat, semua tertib antri satu-satu dan tidak saling serobot.

Melihat perawakan para pelari yang hadir disana, sudahlah cukup mengintimidasi peserta amatir macam saya. Tubuh-tubuh mereka walaupun langsing namun terlihat kokoh dan kuat, diantaranya nampak dihiasi tattoo-tattoo  yang maskulin. Beberapa pelari mengatakan mereka sudah mengikuti event ini berkali-kali. Seorang pelari veteran yang berasal dari Sabah berusaha meyakinkan saya, “You’re gonna make it,  trust me you’ll be coming again next year”.

552425_465707746784978_1480031400_n

Ada 7 peserta yang datang khusus dari Indonesia untuk event ini, menariknya 5 orang di antaranya berusia di atas 40 tahun. Saat kami berfoto dengan bendera merah putih, beberapa orang datang menghampiri kami, mereka mengaku berasal dari Flores dan sudah bermukim di sana sebagai pekerja migran selama bertahun-tahun. Seorang diantaranya mengatakan sudah mengikuti event ini sebanyak 12 kali .. ck..cckk..edan! Gilanya lagi si bapak ini tampangnya benar-benar jauh dari tampang pelari, mengenakan celana loreng American Army gombrong seukuran dengkul , kaus polo yang warnanya sudah memudar, dan sepatu plastik yang sama sekali bukan sepatu olahraga,

Akhirnya bendera start dikibarkan oleh Perdana Menteri Malaysia. Beberapa pelari-cepat melesat jauh di  depan kami. Dengan jarak tempuh lomba sejauh 23 km, para pelari akan menerapkan strateginya masing-masing untuk bisa menyelesaikan lomba.  Jarak, terjalnya medan, ketinggian dan cuaca adalah tantangan terbesar bagi semua pelari. Oleh karena itu, motivasi, determinasi, dan ketabahan hati menjadi modal utama untuk bisa tiba di garis finish.

“ Jangan ikuti pelari cepat, jika berlari terlalu cepat, Anda akan berhenti dengan cepat pula,” seorang tiba-tiba berkata saat saya berusaha menyamakan langkah dengan pelari lainnya. “Larilah dengan kecepatan yang biasa Anda lakukan,” katanya lagi. Saya hanya bisa mengucapkan terima kasih untuk nasihatnya pada kilometer-kilometer awal tersebut.

Dan kami dihadapkan pada tanjakan cadas dan dan tanjakan dari tangga kayu nan panjang. Dari kilometer 0 pada ketinggian 1500 m, para pelari akan menghadapi tanjakan sampai kilometer 8 di ketinggian 2760.3 m hingga tiba di Layang-Layang Hut. Seingat saya pada suatu tempat di kisaran jarak ini, para pelari veteran yang berasal dari Flores ini sempat menepuk bahu saya dan berkata “Ayo tidak jauh lagi.” Setelah itu perlahan mereka menghilang dari batas pandang saya.

Setelah melintas hutan dan lereng terjal, menuruni jalan aspal sejauh 10 km hingga garis finish di kota sayur Kundasang adalah sebuah tantangan yang berbeda.  Kita tidak hanya dihadapkan dengan kelelahan, tapi juga   kebosanan. Ditambah pula medan terbuka yang memperlihatkan jauhnya sisa jarak yang masih harus ditempuh juga cukup mengintimidasi banyak pelari. Beberapa nampak berjuang untuk tetap terus berlari hingga garis akhir.

Tiga yang tercepat akhirnya tiba di garis finish, Killian Jornet Burgada, pelari lintas alam dari Spanyol, disusul oleh Aite Tamang dari Nepal dan Miyahara Toru dari Jepang. Saya sendiri, mencapai garis finish dengan bangga, karena berhasil menyelesaikan Climbathon ini dengan cara dan kemampuan saya.

Climbathon sendiri dimulai tahun 1987, pada saat dibentuknya regu penyelamat yang bertugas menyelamatkan pendaki yang terluka, terutama pada cuaca buruk. Dalam perkembangannya pada tahun 2003, Climbathon Kinabalu diakui sebagai salah satu seri Skyrunning World Series dan hingga kini menjadi event tahunan yang ditunggu para pelari lintas alam dari seluruh dunia. Keikut sertaan saya dalam ajang ini adalah bagian dari persiapan ekspedisi Gapai Tinggi Ama Dablam 2013.

 

 

 

 

Leave a Reply