Menyusuri Kota Hantu

“Srek srek srek…” bunyi langkah kami yang terburu-buru di atas salju yang tebal. Kota hantu ini tertata rapi, terlalu rapi, dan ditinggalkan begitu saja oleh penghuninya. Ini bukan legenda Machu Picchu di Peru. Ini Pyramiden, sebuah kota pertambangan milik Rusia yang ditinggalkan penghuninya pada tahun 1998. Sepertinya kota ini ditinggalkan secara terburu-buru oleh penghuninya, ini terlihat dari barang-barang yang ditinggalkan begitu saja. Nama kota Pyramiden diambil dari bentuk bukit di atas kota yang menyerupai Piramid. Kota hantu yang terletak di 79 derajat Lintang Utara ini merupakan bekas salah satu pemukiman paling utara di bumi. Suasana siang hari yang redup, matahari yang hanya mengintip sepanjang hari, mengingatkan film vampir “30 Days of Night”.

Abandoned Apartment
Abandoned Apartment in Pyramiden

Kami menyusuri kota ini dengan hati-hati, kelompok kecil kami dipandu oleh guide yang menggunakan senapan berkaliber 7.62 x 63 mm (.30-06 Springfield) yang siap ditembakkan. Beruang kutub tinggal di sini, berbeda dengan Beruang Madu yang kita kenal di Bengkulu, bukan juga Teddy Bear yang bisa kita peluk ketika mengantuk ^ ^. Beruang Kutub sangat agresif. Tentu kita pun tidak mau Beruang Kutub yang jumlahnya sedikit itu berkurang karena ditembak, tapi kita pun perlu melindungi nyawa kita yang cuma satu.

Guide with Rifle
Guide with Rifle

Seperti menaiki mesin waktu ke jaman sebelum reformasi Rusia, kota ini dipenuhi ornamen komunis. Tentu saja di sini pun ada patung Lenin yang berdiri di depan sebuah gelanggang olahraga. Tempat tinggal pria dan wanita pun dipisah. Terdapat juga bangunan Auditorium yang memiliki sebuah Grand Piano yang diberi nama Red October.  Di depannya Kami pun menemukan plang 79 derajat Lintang Utara, tentu saja kami langsung berfoto bersama di sini. Langkah kami menyusuri pun terhenti ketika seekor Rubah Putih yang cantik melintas di depan kami.

White Fox
White Fox

Sayangnya kami tidak bisa berlama-lama di sini. Pada bulan November, siang hari sangat singkat di belahan bumi ini, matahari akan segera terbenam. Kami pun segera kembali ke kapal yang telah menunggu untuk kembali ke Longyearbyen. Ketika kembali di dermaga, kami baru menyadari bahwa Pyramiden terletak di sebuah teluk yang indah. Warna langit ungu dan jingga milik Matahari yang akan terbenam pun terhampar di pandangan mata. Mungkin bagi penghuninya dulu, ini adalah kota terindah di dunia.

Perjalanan ini adalah bonus menarik setelah berlatih di Matterhorn, Swiss, sebelum latihan berikutnya di Hvannadalshnúkur, Iceland. Membiasakan dengan suhu ekstrim dingin merupakan salah satu tujuan kami. Pada kesempatan selanjutnya saya akan mencoba menulis mengenai pengalaman kami menginap di gua es di bawah Ice Glacier Svalbard.

Travel Tips: Kota Pyramiden dapat dicapai dengan Kapal dari Longyearbyen, ibukota dari Svalbard. Svalbard, atau dikenal juga sebagai Spitsbergen, adalah kepulauan paling utara di Bumi. Lokasi ini dapat dicapai dengan penerbangan Iceland Air dari Oslo, Norwegia. Bukan Air Iceland, karena penerbangan ini hanya melayani rute domestik di Iceland, Greenland, dan Faroe Island.  Hal yang menarik lainnya untuk dilihat: Beruang Kutub, Gunung Es, Midnight Sun, dan Aurora Borealis. Jangan lupa membawa jaket bulu angsa dan windbreaker! Tulisan dan foto oleh Fedi Fianto.

Peta Lokasi:

icon-car.pngKML-LogoFullscreen-LogoQR-code-logoGeoJSON-LogoGeoRSS-LogoWikitude-Logo
Pyramiden

loading map - please wait...

Pyramiden 78.656102, 16.360703

Fedi Fianto

Selain melakukan kegiatan mendaki gunung, ia juga menekuni kegiatan fotografi dan videografi. Ia selalu berusaha untuk “doing extra miles” di setiap tantangan yang dipilihnya, dan itu dibuktikannya dengan mengikuti kompetisi Triathlon dan Marathon. Selain itu ia pun menekuni Olahraga Selam dan mengabadikan keajaiban bawah laut di pulau-pulau cantik Indonesia di antaranya Bali, Ambon, Wakatobi, Alor, dan Lembeh.

2 thoughts on “Menyusuri Kota Hantu

Leave a Reply