Winter di Island Peak

Saya tiba di tempat ini saat musim semi sudah lewat jauh. Desember tahun lalu di Desa Chukung, jalan-jalan desa sudah berlapis es, para pekerja hotel/lodge sudah  bersiap untuk turun ke bawah ke daerah yang lebih hangat, ladang sayur hanya tinggal tanah kosong berwarna kecoklatan. Tak ada romantisme ala winter sonata di tempat ini. Hanya ada 1-2 turis pendaki yang berkeliaran. Sepanjang siang hingga sore itu saya hanya menyaksikan rombongan 4 orang perempuan yang tengah menembus dingin sambil memanggul keranjang berisi kotoran yak di punggung.

Di Puncak Island Peak
Di Puncak Island Peak

Desa Chukung yang berada pada ketinggian 4.730m adalah desa terakhir sebelumbase camp pendakian Gunung Island Peak. Hanya ada 6 buah lodge di desa kecil ini. Saya berpikir lodge-lodge ini dibangun semata untuk akomodasi para turis pendaki yang akan mendaki Chukung Ri dan Gunung Island Peak. Mereka yang tinggal di sini rata-rata adalah pekerja untuk lodge-lodge tersebut.

Pilihan untuk mendaki Gunung Island Peak saat winter sebetulnya bukan pilihan yang disukai, lebih karena keleluasaan waktu untuk cuti panjanglah yang menjadi pertimbangan mengambil waktu tersebut. Tantangan terbesar melakukan perjalanan di kawasan ini pada saat musim dingin, disamping faktor ketinggian, adalah suhu udara yang ekstrim. Lepas dari ketinggian 4.800m, suhu di luar pada malam hari bisa mencapai minus 20-30 derajat celcius, bandingkan dengan suhu harian di Jakarta yang 23-32 derajat celcius.  Jadi saya benar-benar harus membawa perlengkapan pendakian dengan kualitas terbaik. Beberapa diantaranya bahkan harus saya beli di Thamel, Kathmandu,  agar benar-benar sesuai dengan medan dan kondisi cuaca yang bakal saya hadapi.

Base camp

Siang hari berikutnya, tiupan angin kencang menyambut kedatangan kami di base camp Island Peak. Langit biru cerah, deretan puncak salju di bagian belakang, dan sebuah lembahan kecil diapit punggungan berbatu yang akan menjadi tempat kami mendirikan tenda dan bermalam. Tak ada satu tanamanpun yang tumbuh di dataran berbatu nan dingin ini. Base camp Island Peak letaknya di sebelah timur Gunung Island Peak, puncak gunung ini sama sekali tidak terlihat dari base camp.

Ada 4 tenda yang sudah berdiri di sana, dua tenda dome yang nyaman dan 2 tenda model rumah-rumahan. Awalnya saya hanya berpikir tenda rumah-rumahan ini adalah tenda untuk para sherpa, tapi setelah melongok ke dalam, saya langsung menyimpulkan, tenda ini bakal menjadi tempat yang paling nyaman di seantero base camp, ada meja dan kursi, termos air hangat dengan aneka pilihan minuman instan, dan makanan yang melimpah. Dapur tempat memasak letaknya cuma beberapa meter dari tenda makan ini.

Segelas sari jeruk instan panas menjadi welcome drink bagi saya dan dua pendaki lain dari Austria. Itu adalah sari jeruk terenak yang pernah saya minum.  Ada dua macam makanan yang ditawarkan untuk makan siang kami, dal bhat dan mie. Dal bhat adalah makanan khas Nepal, yang terdiri dari nasi, tumis sayuran dan kuah yang dicampur  kacang lentil. Saya memilih menyantap mie saja, sejak tiba di Thamel pertengahan November lalu, perut saya seperti sudah over dal bhat.

Bagi para first summitter seperti saya, yang datang dari daerah yang ketinggiannya sama dengan permukaan laut,  ketinggian basecamp 5.110m  ini sudahlah cukup untuk mempengaruhi metabolisme tubuh saya. Pergerakan saya sudah tidak selincah seperti biasanya dan nafsu makan saya mulai berkurang. Saat pengaruh ketinggian mulai mempengaruhi metabolisme tubuh, minum air yang banyak, dan istirahat yang cukup bisa meredakan pengaruh tersebut.

Menuju Puncak

Tiga bulan sebelum saya tiba di base camp ini, saya sudah berlatih fisik secara rutin. Lari 5-10 km tiga kali seminggu sudah menjadi menu mingguan saya. Sayapun mengkonsumsi rata-rata 5 butir putih telur sehari untuk meningkatkan berat badan dan menjaga asupan gizi selama masa persiapan. Berat badan saya sebelum berangkat meningkat 8 kg dibandingkan tiga bulan sebelumnya. Dengan tambahan 8 kg ini saya yakin akan bisa bertahan lebih baik di tengah cuaca yang ekstrim.

Malam di base camp Island Peak, saya mengenakan 4 lapis pakaian dingin, atas bawah, dan saya masih bisa merasakan dingin yang menggigit itu. Saya begitu gugup dengan apa yang akan terjadi esok hari, sampai-sampai saya tidak bisa memejamkan mata malam itu.

Pagi berikutnya, saat cahaya pertama jatuh di lereng Island Peak,  saya hanya bisa berdecak kagum pada bias warna kuning yang meningkahi hamparan salju di depan saya. Saya seperti mendapat semangat dan tenaga baru lagi untuk menjejakkancrampon dan melintas padang es ini, setelah berjalan sejak dinihari tadi, dihajar dingin dan ketinggian hingga tiba di tempat ini.

Setelah padang es, medan yang harus dilalui adalah dinding es setinggi kurang lebih 300 meter yang merupakan bagian terberat dari keseluruhan trek menuju puncak Island Peak. Lepas dari sini, di dataran es dengan ketinggian 6.189m, puncak Island Peak,  kita akan disuguhkan deretan puncak salju yang mencengangkan mata : Nuptse, Lotshe,  Lothse Shar di bagian utara,  Makalu di sebelah timur dan Amadablam serta Baruntse di arah selatan. 5 menit di atas sana menjadi salah satu momen yang mengesankan dalam hidup saya

Leave a Reply