Thamel – Kathmandu, surga belanja perlengkapan outdoor

Thamel adalah magnet besar bagi siapapun yang berkunjung ke Kathmandu, Nepal. Tempat ini mulai berkembang menjadi kawasan wisata sejak dibangunnya Kathmandu Guest House pada pertengahan tahun 1970, yang kemudian diikuti dengan dibukanya beberapa restauran di sana. Sejak saat itu kawasan ini terus tumbuh menjadi pusat industri wisata yang popular bagi para wisatawan manca Negara.

Thamel, Kathmandu
Thamel, Kathmandu

Ada banyak ulasan negatif mengenai Thamel, mulai dari penipuan kartu kredit, agen trekking, pelayanan taxi,  copet, juga perilaku penjual cindera mata yang tidak etis. Semuanya membuat saya ekstra hati-hati dalam mempersiapkan perjalanan ke sana, dari mencari hotel, menghubungi agen untuk trekking, hingga mengurus keperluan  lainnya.

Saat tiba di tempat ini, di tengah malam buta, pertengahan November lalu, kesan negatif tempat itu perlahan sirna dengan sendirinya. Supir taxi yang membawa saya ke hotel tujuan, berbaik hati menghubungi pihak hotel terlebih dahulu dengan telepon genggamnya untuk mendapatkan arahan lokasi hotel yang pas, tarifnyapun benar. Pihak hotel juga menjemput dan memperlakukan ransel besar saya dengan baik. Agen trekking yang saya pilih bahkan sudah mulai memberikan pelayanan jauh sebelum saya tiba di kota itu. Saya bahkan berteman baik dengan seorang mantan tentara Ghurka yang lama bertugas di Singapore dan saat ini membuka usaha restauran dan hotel  di sana.

Wajah Thamel adalah labirin jalan-jalan sempit yang penuh dengan lalu lalang manusia, rickshaw, motor-motor yang bergerak cepat, mobil-mobil Suzuki maruti yang berfungsi sebagai taksi, dan deretan ruko-ruko kecil bertingkat 4-6 lantai. Bercampur baur di sana adalah  toko-toko yang menyediakan segala macam kebutuhan, mulai dari  perlengkapan outdoor, trekking agent, restauran, cindera mata, bakery, hotel, penjual makanan, kedai kopi, bank, money changer, panti pijat, bar dan lain-lain. Sebuah ruko di kawasan Thamel bisa terpasang selusin  papan nama toko dan usaha yang berbeda.

Bagi para pemanggul ransel, Thamel adalah surga tempat belanja perlengkapan outdoor. Sebutlah merk perlengkapan outdoor ternama yang anda tahu, anda bisa menemukan dengan mudah masing-masing authorized dealer-nya di sana. Bagi yang berkantong pas-pasan, bisa juga membeli buatan lokal yang tampilannya tidak kalah dengan merk aslinya.

Tempat ini juga berfungsi sebagai gerbang awal penjelajahan di kawasan Nepal dan sekitarnya. Bayangkan ada kurang lebih 1200-an trekking agen yang menyediakan layanan ekspedisi pendakian gunung es, trekking ke Everest base camp, arung jeram, sepeda gunung dan lain-lain. Mereka ini berkantor mulai di kompleks pertokoan, plaza, hingga di mulut gang dan sudut tangga ruko.

Membandingkan “atmosphere” kawasan Thamel dengan tempat-tempat lain di Indonesia, menurut saya tempat itu seperti perpaduan kawasan Sosrowijayan, Malioboro di Yogya, pasar Mayestik, kawasan distro Tebet raya di Jakarta, dan kawasan jalan Riau, Cihampelas Bandung yang dikemas menjadi satu. Penuh warna  .

Sebuah pagi di kawasan Thamel adalah segelas chia/ chai panas di warung kecil di ujung gang sambil menamati suasana pertokoan yang perlahan hidup. Lalu lalang rickshaw yang mengangkut barang-barang dagangan, derum suara motor yang membawa para pekerja, juga klakson dari mobil-mobil yang bergerak lincah di antara gang-gang sempit di Thamel.

Saat makan siang, singgahlah pada salah satu restauran di sana, pesanlah satu porsi Dhalbat, nasi dan tumis sayurannya bisa nambah tanpa dipungut bayaran lagi. Harga satu porsi Dhalbat berkisar antara 150-200 Nepali Ruppee, sekitar 18-21 ribu rupiah.

Ditengah keramaian siang di jalan-jalan di Thamel, jika beruntung anda bisa mencuri dengar alunan “ Sarangi” biola khas Nepal yang memainkan lagu Resham firiri, lagu tradisional Nepal yang popular dimainkan oleh para pemusik jalanan di sana.

Menjelang sore, di sebuah warung kecil di sudut Paknajol, Thamel dipenuhi para pengunjung yang ingin menghangatkan badan mereka dengan minuman beralkohol. Warung ini juga menjajakan kentang, ikan dan daging kambing goreng yang disajikan panas-panas dengan bumbu kacang dan sambal.

Saat malam tiba, jika ingin menemukan keramahan khas Nepal sekaligus bercengkrama dengan para pemanggul ransel manca Negara, pergilah ke sebuah gang kecil di Paknajol Thamel dekat dengan Travellers Inn hotel. Sebuah warung kecil di ujung gang di sana menjual beer lokal, Everest Beer, juga keju Yak dengan harga yang cuma separuh daripada harga di Bar-Bar dan minimarket yang bertebaran di seantero Thamel. Pemilik warung yang ramah akan menyapa semua pengunjung yang datang. Segelas chai atau sepotong yak cheese akan ditawarkan dengan cuma-cuma oleh pemilik warung.  Suasana di warung tersebut serasa di angkringan kopi joss Tugu atau wedangan Pak Gerok di Solo, bangku-bangku kecil di pinggiran gang, cahaya remang, dan perbincangan mengenai puncak-puncak salju yang menyenangkan.

Leave a Reply