Namche Bazaar, Desa Megapolitan di Himalaya

Rombongan kecil kami tertahan di ujung jembatan gantung, tengah melintas dari arah yang berlawanan, rombongan hewan pengangkut barang Jobkyo. Bentuk tubuhnya yang besar, tanduk hitamnya yang meliuk runcing dan dengusan keras nafasnya seolah mengintimidasi siapapun yang belum terbiasa dengan kehadiran hewan ini. Jobkyo adalah hasil kawin silang antara Yak dan kerbau yang memiliki kesintasan yang lebih tinggi di daerah yang lebih rendah dan cuaca  yang tidak begitu dingin. Di Kawasan ini mereka adalah pengangkut barang yang tangguh.

Porter di Namche Bazaar
Seorang porter memanggul perbekalan di Namche Bazaar

Setelah menempuh 2 jam perjalanan dari jembatan tersebut, deretan hotel, bendera doa, dan rumah-rumah penduduk mulai terlihat di depan. Langit biru cerah menaungi desa Namche Bazaar siang itu. Desa yang berada pada ketinggian 3.440 meter di atas permukaan laut ini merupakan persinggahan wajib bagi para pemanggul ransel dan pendaki yang melintas di kawasan ini.  Berada pada ketinggian tersebut tanpa istirahat dan aklimatisasi cukup, bisa menyebabkan tubuh terkena penyakit ketinggian. Normalnya dilakukan dua hari aklimatisasi di tempat ini.

Dua hari proses aklimatisasi di Namche Bazaar bisa dikatakan sebuah proses yang menyenangkan, menghabiskan sebuah senja yang berkabut,  duduk di bangku kayu sambil menyesap segelas teh panas dan menyaksikan Konde Ri peak yang perlahan hilang ditelan kabut.  Atau sekedar duduk dan menghangatkan diri di depan kompor Yak sambil membaca buku. Saat cuaca bagus, bentangan langit malam yang bertabur gemintang adalah sebuah pengantar tidur yang mempesona.

Window shopping di Tibetan market yang digelar dekat stupa Budha besar juga suatu hal yang harus dilakukan di sana. Siapa tahu menemukan pernik unik ala Tibetan untuk oleh-oleh kerabat. Harga yang diberikan memang kadang tidak masuk akal, namun kita bisa menawarnya hingga seperempat atau seperlima harga. Mereka tidak akan marah, berpura-puralah akan beranjak pergi, si penjual biasanya akan terus memanggil, selanjutnya andalah yang mengendalikan proses tawar menawar tersebut. Tibetan market juga menjual perlengkapan outdoor buatan Cina. Ada istilah yang populer di tempat ini untuk produk The North Face, dibahasakan menjadi  The North Fake.

Sherpa's Market at Namche Bazaar
Sherpa’s Market at Namche Bazaar

Namche Bazaar juga menjadi surga yang luar biasa indah bagi para photographer. Ada obyek foto berlimpah yang bisa diambil di sana, biru langit, lembah, sungai, lereng, padang,  deretan gunung es, perempuan-perempuan dengan pipi yang berwarna kemerahan yang  tersenyum riang, para penggembala Yak, Sherpa pengangkat barang,  semuanya bisa memenuhi segenap memori kamera anda. Pemandangan jalan di Namche Bazaar bisa dinikmati di google street view.

Desa Namche Bazaar, walaupun berada pada ketinggian yang nyaris sama dengan Puncak Gunung Slamet di Pulau Jawa, bukan merupakan desa terpencil di pucuk gunung. Di tempat ini kita bisa menemukan segala macam kemewahan yang tidak terbayangkan sebelumnya, apapun yang ada dalam pikiran anda. Selain deretan hotel dan lodge bagi para pendaki, di sana juga bisa ditemukan  menemukan kedai pizza, ATM, kantor bank, rumah bilyar, internet café, bar, bakery, bahkan authorize dealer  perlengkapan outdoor Mountain Hardware juga membuka tokonya di tempat ini. Seperti sebuah megapolitan di kawasan Himalaya.

Awalnya Namche Bazaar adalah desa yang menjadi pos perdagangan. Penduduk setempat akan datang ke Namche Bazaar untuk melakukan barter keju Yak, mentega dengan  hasil pertanian dari daerah yang lebih rendah.   Namun, setelah Sir Edmund Hillary dan Tenzing Norgay sukses mendaki Everest pada tahun 1953, dinamika desa ini menjadi berubah karena banyak pendaki dan penjelajah lain yang ingin mengikuti jejak keberhasilan mereka.  Pada awalnya para pendaki datang dalam kelompok kecil, namun pada tahun 60-an dan 70-an mereka datang dalam kelompok besar secara bersamaan dan Namche Bazaar adalah desa yang bisa melayani semua kebutuhan  mereka.

Namche Bazar adalah sebuah gambar yang sempurna untuk menjelaskan betapa aktivitas pendakian gunung telah menjadi sebuah industri besar yang menjadi motor perekonomian di kawasan ini. Menurut data statistik pemerintah Nepal, distrik  Namche Bazaar adalah distrik terkaya di Nepal, yang memiliki pendapatan 7 kali diatas rata-rata pendapatan national atau dua kali lipat dari pendapatan rata-rata di Kathmandu, ibukota Negara Nepal.  Saya ingat betapa dengan bangganya si pemilik hotel tempat saya menginap, saat dia menjelaskan bisa menyekolahkan anaknya di Amerika, sambil menunjukan foto anaknya di depan Golden Gate Bridge di San Francisco.

Dari Lukla umumnya ditempuh dua hari perjalanan trekking untuk mencapai Namche Bazaar. Alternatif transportasi yang lain adalah charter flight untuk 5 orang dari dan ke Syanboche Airport.  Tulisan oleh Taufan Hidayat, foto oleh Fedi Fianto.

 Peta Lokasi:

icon-car.pngKML-LogoFullscreen-LogoQR-code-logoGeoJSON-LogoGeoRSS-LogoWikitude-Logo
Namche Bazaar

loading map - please wait...

Namche Bazaar 27.806874, 86.713970

3 thoughts on “Namche Bazaar, Desa Megapolitan di Himalaya

Leave a Reply