Mimpi puncak salju

Nepal tidak hanya menawarkan Mount Everest, puncak  tertinggi di dunia , sebagai magnet utama bagi para penyuka olah raga mendaki gunung. Ada ratusan puncak bersalju  lain dengan ketinggian beragam, dari yang mudah hingga pendakian yang tergolong kelas ekspedisi. Akhir November 2011  lalu saya menjajal salah satu puncaknya, Island Peak 6.189 m, dan brrr.. dinginnya.

Aklimatisasi
Aklimatisasi

7 November 2011,setelah menempuh perjalanan selama kurang lebih 50 menit dari bandara Tribhuvan Kathmandu dengan pesawat Agni Air , saya tiba di airport kecil Tenzing  Hillary, Lukla, dan saya memulai perjalanan mimpi puncak salju itu. Lukla, Desa kecil yang berada di ketinggian 2850 m merupakan gerbang utama menuju Taman Nasional Sagar Matta dan juga untuk banyak pendakian gunung di kawasan Everest.  Sebuah tempat yang disebut sebagai terminal kedatangan di sana adalah sebuah bangunan kecil yang segera menjadi penuh sesak saat ada pesawat mendarat, baik oleh para penumpang yang ingin mengambil bagasi mereka, juga oleh banyak penduduk lokal yang menawarkan jasa sebagai guide dan porter.  Saya hanya tersenyum saat mendapat tawaran itu dan menjelaskan kalau saya sudah punya guide.

Memilih guide untuk trekking  di kawasan ini adalah sebuah tantangan tersendiri . Ada sekitar 1200 penyedia layanan trekking yang terdaftar di Kathmandu, dan semuanya mengklaim sebagai yang berpengalaman. Saya melakukan korespondensi selama tiga bulan dengan beberapa agen sebelum akhirnya memilih satu yang benar-benar saya cocok. Memasuki Desa Lukla , saya disambut oleh lambaian bendera doa yang menjuntai dekat perbukitan, juga para porter pembawa barang yang tengah mengepak barang, dan bunyi klonengan  kalung dari rombongan kuda poni. Ketika sampai di  tengah desa, saya melihat  ada sebuah rumah doa dengan roda doa besar di dalamnya. Saya memutar roda doa itu sambil mengucapkan salam dan doa di sana.

Di Namche Bazar, yang ketinggiannya sama dengan puncak gunung Slamet 3440 mdpl, sebagian besar rumah di sini  telah berubah menjadi hotel-hotel kecil, restauran, atau toko cindera mata. Di sana bahkan bisa ditemukan kedai pizza, toko roti, ATM, money changer   dan toko perlengkapan outdoor  sekelas Mountain Hardwear.   Apapun yang anda cari bisa ditemukan di sini. Namche Bazar adalah sebuah gambar yang sempurna untuk menjelaskan betapa aktivitas  pendakian gunung telah menjadi sebuah industri besar yang menjadi motor perekonomian di kawasan ini.

Selepas Namche Bazar, saya seperti tenggelam dalam potongan surga yang dilemparkan Tuhan di tempat ini. Deretan puncak salju yang membentuk lekukan seksi di ujung cakrawala. Biru langit, lembah, sungai, lereng, padang  dan perempuan-perempuan dengan pipi yang berwarna kemerahan yang  tersenyum riang mereka,  semuanya seolah bersatu padu untuk mempesona siapapun yang datang kesana.  Saya seperti mengalami ekstasi  berkali-kali di mata.

Potongan kecil puncak Island Peak baru terlihat setelah saya tiba di Dingboche, siang menjelang sore pada hari kelima perjalanan saya. Ia terlihat begitu kecil dibandingkan dengan puncak Lhotse dan Nuptse yang berdiri besar.  Eric Shipton memberi nama Island Peak untuk gunung ini pada tahun 1952. Sesuai dengan namanya, gunung ini  seperti pulau di tengah lautan gunung es yang lain.  Setahun berikutnya gunung ini didaki untuk pertama kalinya oleh tim yang tengah menyiapkan pendakian ke Everest, Tenzing Norgay, yang bersama Sir Edmund Hillary berhasil mendaki puncak Everest untuk pertama kalinya,  termasuk dalam tim tersebut.

Hari kedelapan, tengah hari,  saya tiba di desa Chukhung, desa terakhir sebelum Island Peak base camp. Jalan desa  lengang, dingin menggigit,  dan sunyi.  Musim pendakian sudah usai seiring dengan datangnya musim dingin di sana, hanya ada satu-dua turis pendaki yang masih berkeliaran di desa dengan ketinggian 4730 m itu.  Beberapa hotel kecil yang ada di sana dibiarkan tutup begitu saja. Pemilik dan pengelola hotel memilih untuk tinggal di kawasan yang lebih hangat, pada ketinggian yang lebih rendah.   Saya menarik rapat resluiting wind breaker   hingga ke batas leher, down jacket   yang saya kenakan masihlah belum cukup menahan hawa dingin tengah hari itu.

Malamnya, kami berkumpul di depan kompor Yak, berusaha mencari hangat dari kotoran yak yang dibakar di dalam tabung kompor.   Satu piring Dhalbat dan tiga gelas teh panas menjadi energi untuk melawan dingin yang kian mendera kulit. Dhalbat adalah makanan khas Nepal yang terdiri dari nasi, tumis sayuran, dan kuah kacang polong . Saya memilih untuk meringkuk di dalam kantung tidur sambil menyaksikan bulan bulat berwarna emas dari balik jendela. Selepas desa, jalan setapak berujung pada sungai dengan air yang mengalir deras dari  ImjaGlasieryang berair keruh yang  ujungnya meliuk dari atas perbukitan.  Berdiri tegap mengelilingi desa ini, dinding selatan Lothse, Nuptshe, Island Peak, View 38 dan Amadablam, puncak-puncak  yang menawan.

Pagi berikutnya, saat cahaya pertama jatuh pada punggungan pertama Island Peak, saya tiba di batas batu dan salju. Saya langsung mendudukkan diri pada gundukan batu terdekat, meluruskan kaki, melepaskan ransel yang sudah bertengger di pundak sejak jam 1 dinihari tadi, dan berusaha menstabilkan nafas  di tengah udara yang mulai miskin oksigen .  Saya berusaha melawan rasa kantuk yang luar biasa dan mulai memejamkan mata. Sepertinya jerih payah saya melakukan jogging intensif setiap hari sejak awal September lalu, sama sekali tidak berbekas di ketinggian ini.

Refleks saya membuka mata begitu merasakan ada tangan yang menyentuh bahu saya. Ganesh, pemandu pendakian saya, mengajak  untuk segera melanjutkan perjalanan. Ia segera membuat simpul di tali kermatel yang dibawanya dan memasang cincin kait ke harness yang saya pakai. Sekarang kami berdua sudah terhubung dengan tali dan mulai melintas glasier.

Cahaya matahari sudah menerangi glasier, dan saya hanya bisa berdecak kagum pada bias warna kuning yang meningkahi hamparan putih itu  tanpa  lagi bisa mengeluarkan kamera untuk mengabadikannya.   Saya merasa tidak lagi memiliki energi berlebih untuk mengambil gambar hamparan cantik itu. Walaupun sudah mengenakan crampon, tidak mudah menjejak pada hamparan salju itu. Berat kaki saya serasa  berlipat-lipat. Saya butuh menarik napas satu kali bahkan lebih,  untuk berjalan satu langkah. Setelah 8 atau 10 langkah, saya akan berhenti untuk mengatur nafas kembali. Hal itu terus berulang hingga saya tiba di bagian akhir glasier.

Meskipun saya sudah tahu persis tahapan medan yang akan dilewati sepanjang pendakian,  saya yang tengah dihajar dingin  dan ketinggian ini  hanya bisa ternganga dengan pemandangan yang ada di depan saya saat itu. Dinding es setinggi kurang lebih 300 meter tegak menjulang. Saya dibuatnya gentar… saya terduduk di atas salju dan mencoba mengumpulkan semua tenaga yang sudah terbang sejak dinihari tadi. Saya berusaha terus mengembalikan semangat dengan  mengingat puncak  Amadablam yang terus mengintai di sepanjang perjalanan,  juga Everest dan Lotshe yang saya lihat 4 hari lalu dari puncak Kalaphatar.

Tak ada waktu untuk meratapi dingin dan ketinggian, karena segera saya harus melakukan belaying – mengamankan – pemandu saya yang tengah memasang tali untuk memanjat dinding es ini. 40 menit kemudian, crampon di sepatu saya sudah menjejak pada dinding es . Tangan kanan saya menarik jumar ke atas, bergantian saya memindahkan berat badan, antara jumar, tangan dan bergantung pada tali. Bergantian pula semangat  dan kelelahan mengisi kepala saya.  Saya berusaha melupakan dingin dan ketinggian yang menyakitkan  dan terus merambat naik .

Tiba di ujung di ujung dinding, saya seperti kehabisan nafas. Butuh beberapa menit untuk bisa menetralkan kembali nafas. Di depan masih ada  150 meter lagi igir-igir tipis seukuran badan untuk menuju mimpi puncak salju itu. Kali ini walaupun diterpa kerasnya angin , saya bisa melakukan jumaring dengan tersenyum. Jam 10.05 saya tiba dipuncak. Sebuah dataran es kecil , berukuran sekitar dua meter persegi yang terpapar angin dari segala penjuru.  Lima menit kemudian dua pendaki dari Austria menyusul tiba di puncak.  lima menit berikutnya juga kami bertiga diminta segera turun dari puncak oleh guide-guide kami karena angin  bertiup begitu keras.

Itu adalah lima menit yang sangat mempesona bagi saya. Saya berada begitu  dekat  dengan deretan puncak salju yang mencengangkan mata : Nuptse, Lotshe,  Lothse Shar di bagian utara,  Makalu di sebelah timur dan Amadablam serta Baruntse di arah selatan. Tubuh saya terhuyung diterpa angin. Itulah waktunya untuk turun dan bermimpi puncak salju berikutnya.

 

Leave a Reply